Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMU kedokteran di Indonesia tidak kalah maju dari negara-negara lain di dunia. Hampir semua jenis penyakit, baik ringan maupun berat, dapat ditangani di dalam negeri. Namun, ada kalanya, ketika penyakit sudah teratasi, masih ada dampak yang tersisa. Misalnya, keterbatasan gerak maupun kelumpuhan akibat stroke, cedera pascaoperasi, penyakit persendian, maupun gangguan lain. Untuk memulihkan pasien secara sempurna, diperlukan terapi lanjutan. "Secara medis, pasien memang sudah dinyatakan sembuh. Namun, untuk mengembalikan ke fungsi gerak seperti semula, diperlukan penanganan khusus yaitu exercise melalui fisioterapi," ujar Anna, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dari Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/6).
Menurutnya, exercise is medicine. Exercise yang dimaksud merupakan latihan fisik untuk mengembalikan semaksimal mungkin fungsi tubuh manusia yang berkurang atau hilang akibat penyakit yang pernah diderita maupun yang sedang diderita. Sayangnya, akibat minimnya pengetahuan, ada masyarakat yang ketika mengalami problem tersebut justru 'berobat' ke tempat-tempat nonmedis.
"Ilmu fisioterapi belum dikenal luas di masyarakat, banyak pasien yang pascaoperasi memilih terapi ke klinik nonmedis, padahal ada bidang kedokteran yang mampu mengatasi persoalan tersebut," tambah Anna. Ia mencontohkan, di poli fisioterapi RS Santo Borromeus tersedia alat-alat kebugaran canggih dan modern untuk pemulihan dan pemeliharaan pasien dengan berbagai gangguan fungsi tubuh. Salah satu pasien di poli fisioterapi RS Santo Borromeus menuturkan manfaat terapi yang dijalaninya. Oma Lana, demikian sapaan akrabnya, bercerita dirinya sempat tidak bisa berjalan akibat penyakit osteoartritis di kedua lututnya. "Saya menjalani operasi di Kuching, Malaysia. Namun, sesudah operasi saya tetap tidak bisa jalan. Lalu ada saudara yang menyarankan saya terapi di sini. Awalnya pesimistis, tapi setelah tiga bulan terapi saya bisa jalan. Naik tangga juga bisa," tutur perempuan berusia 79 tahun itu. (BU/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved