Satu "Kopi Termahal" Ada di Papua

Erandhi Hutomo Saputra
21/6/2016 18:49
Satu
(MI/RAMDANI)

KOPI telah menjadi salah satu minuman yang digemari masyarakat Indonesia, dari anak muda hingga orang tua. Dengan berbagai jenis kopi dari kopi Gayo Aceh, kopi Bali, dan kopi Toraja menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir utama kopi di dunia.

Kini, Indonesia menambah satu daftar kekayaan jenis kopinya dari Bumi Cendrawasih dengan kopi Amungme. Kopi ini baru dikenal sejak 2013 ketika PT. Freeport Indonesia (PTFI) membuka koperasi kopi Amungme.

Pekerja di High Land Economy Development Koperasi Amungme Gold, Harony Sedik menuturkan, jika dulu proses pengolahan kopi dilakukan oleh PTFI, namun dengan adanya koperasi, kini para petani sendiri yang mengelola usaha kopi Amungme. "Mereka (petani) sendiri yang sekarang melakukan panen, penjualan, dan kerjasama dengan koperasi lain," jelasnya.

Kekhasan kopi ini terletak dari biji kopi Arabica yang begitu besar dan berkualitas karena ditanam di ketinggian 3.000 mdpl, tepatnya ditanam di 3 desa yakni Tsinga, Hoeya, dan Aroanop. Desa-desa tersebut terletak jauh di atas Tembagapura tempat pekerja PTFI tinggal.

Kopi Amungme, kata Harony, cepat ludes terjual sebanyak 1-2 ton per bulan. Para pengunjung Kota Timika, tamu Freeport dari luar negeri, dan Pemda setempat, tidak pernah absen membeli kopi Amungme Gold yang memang khas ditanam di tanah dengan tingkat unsur hara yang sangat baik. Bahkan, gerai kopi Starbucks sempat meminta kopi Amungme masuk dalam daftar menu mereka, namun koperasi tidak sanggup karena produksi yang masih terbatas.

"Satu bulan langsung habis, orang dari Timika dan dari mana saja cari kopi Amungme. Tamu Freeport dan Pemda juga suka bawa kopi ke festival," ujar Harony.

Selain kekhasannya, kopi ini juga disebut-sebut sebagai salah satu 'kopi termahal' di Indonesia bahkan di dunia. Mengingat proses distribusi kopi ini yang tidak biasa. Jika lazimnya proses distribusi kopi dari kebun hingga roasting dan pengepakan menggunakan kendaraan angkut hingga truk, namun kopi Amungme sendiri menggunakan helikopter.

Tidak adanya akses jalan untuk kendaraan membuat helikopter menjadi satu-satunya kendaraan angkut agar kopi Amungme bisa dinikmati. Biaya operasi helikopter sendiri US$3.000/jam.

Meski biaya angkut sangat mahal, namun 24 petani di 3 desa tersebut tidak dibebani biaya. Seluruh biaya angkut ditanggung PTFI yang memang berniat memberdayakan masyarakat desa sekitar area pertambangan. Dengan demikian harga kopi masih terjangkau senilai Rp50 ribu setiap 250 gram.

Bahkan, kata Harony, bibit kopi disediakan oleh PTFI dan setiap petani digaji Rp10 juta tiap bulan.

"Kami kasih (bibit) kopi, mereka tanam, kami beli. Dari petani kami beli sekilo Rp.35 ribu, satu kampung menghasilkan 500 kg. Tidak (hasil penjualan tidak menutup biaya angkut), kami tidak mencari keuntungan," tandasnya.

Sementara itu, Vice President Corporation Communication PTFI Riza Pratama mengatakan, dana untuk pengembangan ekonomi masyarakat melalui kopi Amungme didukung total oleh PTFI melalui Social and Local Development (SLD) diluar dari dana CSR Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Komoro (LPMAK).

Riza menuturkan, pengembangan kopi Amungme memang belum ditujukan untuk industri yang masif, melainkan masih dalam pemberdayaan masyarakat agar dapat memanfaatkan potensi lokal. Nantinya, setelah penambangan selesai, diharapkan masyarakat dapat hidup secara mandiri melalui

"Produksinya belum banyak, lebih pada pemberdayaan masyarakat supaya saat tambang selesai masyarakat bisa mandiri," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya