Peluncuran Yang Nyaris Tertunda (Kembali)

Andini Effendi
20/6/2016 08:33
Peluncuran Yang Nyaris Tertunda (Kembali)
(AFP PHOTO / CNES / S.MARTIN)

ROKET Ariane 5 akhirnya menembus luar angkasa setelah diluncurkan pada Sabtu (18/6) pukul 18.38 waktu Kourou, Guyana Prancis atau Minggu (19/6) pagi waktu Indonesia. Peluncuran Ariane 5 kali ini sekaligus menjadi penanda sejarah bagi Indonesia.

Selain membawa satelit Echostar 18, Ariane 5 juga membawa satelit BRIsat untuk ditempatkan di orbit. PT Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI), pemilik BRIsat menjadi bank pertama di dunia yang memiliki satelit sendiri.

Namun, peluncuran bukan tanpa halangan. Semula peluncuran Ariane 5, roket milik Arianespace tersebut dijadwalkan apda 8 Juni lalu. Namun peluncuran tersebut dibatalkan.

Terdapat technical anomaly pada peluncur Ariane 5 yang butuh waktu satu minggu untuk perbaikan. Atas dasar itu, Arianespace menunda peluncuran 5-10 hari dari jadwal pertama. Arianespace tidak mau mengambil resiko untuk meluncurkan roket jika tidak dalam kondisi sempurna.

Beberapa hari setelah penundaan pertama, Arianespace mengeluarkan jadwal baru peluncuran yakni 16 Juni 2016. Seperti pada rencana peluncuran pertama, delegasi Indonesia kembali terbang ke Prancis untuk menyaksikan langsung peristiwa bersejarah tersebut.

Namun setibanya di Bandara Cayenne, Guyana, kabar tidak sedap kembali didapat. Peluncuran kembali harus ditunda sehari akibat terdapat minor mechanical error pada roket. Direncanakan, Ariane 5 akan diluncurkan pada antara pukul 17.30-18.40 waktu Kourou.

17 Juni 2016. Hari yang dinanti telah tiba. Informasi dari tim lapangan menyatakan seluruh komponen peluncur dan launchpad dalam keadaan baik. Peluncuran masih sesuai jadwal. Cuaca pun mendukung. Langit cerah memberikan harapan suksesnya peluncuran Ariane 5 yang membawa BRIsat.

Satu jam jelang jadwal peluncuran seluruh delegasi Indonesia sudah berkumpul di jupiter room atau ruang kontrol utama Guyana Space Center. Di ruang kontrol inilah, semua informasi yang diperlukan seperti kondisi cuaca seperti kecepatan angin diterima.

Waktu menunjukan 17.30 namun tanda-tanda peluncuran belum terlihat. Terdengar pengumuman peluncuran mundur 15 menit. Kemudian mundur Lagi 15 menit Lagi.

CEO Arianespace, Stephane Israel yang sebelumnya duduk tenang, terlihat mondar-mandir di Jupiter room. Stephane tidak berhenti menelepon untuk memantau apa yang terjadi.

Waktu mendekati pukul 18.40 atau batas akhir dari window launch. Mendekati pukul 18.10 Stephane terlihat memberi isyarat no go alias tidak bisa diluncurkan kepada Direktur Utama BRI Asmawi Syam.

Beberapa saat kemudian Stephane memberikan pengumuman resmi bahwa peluncuran harus ditunda karena kecepatan angin sangat kencang sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan peluncuran. Peluncuran dijadwalkan kembali keesokan harinya, 18 Juni 2016 pada waktu yang Sama.

Stephane menyatakan keputusan itu harus diambil untuk menghyindari resiko yang tidak diinginkan seperti roket meledak saat meluncur atau roket berbalik arah ke Bumi. Penundaan berulang-ulang dalam sebuah peluncuran roket bukan hal aneh. Bulan lalu satelit Italia, Galileo mengalami 5 kali penundaan karena berbagai aspek sebelum akhirnya mengorbit di angkasa.

Penundaan peluncuran untuk kedua kali membuat ekspektasi tidak Lagi dibuat tinggi. Namun seperti idiom third time is the charm, proses peluncuran ketiga pada 18 Juni 2016, berjalan dengan sempurna.

Kondisi cuaca sangat baik dan hari sangat cerah. Laporan tim teknis lapangan juga menyebutkan seluruh komponen dalam keadaan siap.

Pukul 17.30 waktu Kourou seluruh awak ruang Jupiter room sudah siap. Peluncuran diumumkan akan digelar 15 menit Lagi. 7 menit sebelum diluncurkan hitung mundur di papan panel pengumuman mulai berjalan.

2 menit sebelum peluncuran countdown berhenti. Kemudian terdapat 2 lampu merah pada papan pengumuman yang menunjukan ada masalah pada 2 komponen teknis.

Arianespace mengumumkan peluncuran ditunda hingga pukul 18.28 waktu setempat, atau 12 menit sebelum jendela peluncuran ditutup. Tepat pada waktu yang ditentukan lampu merah pada panel belum juga berubah hijau.

Pukul 18.31, hitung mundur tujuh menit kembali berjalan. Lampu pada panel seluruhnya berwarna hijau. Matahari sudah bersiap untuk tenggelam sehingga menciptakan siluet di langit seperti lukisan alam.

Satu menit jelang peluncuran seluruh penonton di Jupiter room keluar ke balkon untuk melihat prosesi peluncuran. 20 detik sebelum roket meluncur Jupiter room bergetar hingga akhirnya Ariane 5 yang membawa beban 10.5 ton lebih terbang ke angkasa.

Meluncurnya Ariane 5 bukan berarti membuat delegasi asal Indonesia tenang. Mereka harus menunggu hingga BRIsat sukses ditempatkan di orbit yang telah ditentukan.

Pada menit ke-42 setelah peluncuran, BRIsat berhasil dilepas pada titik 150 derajat arah timur yang melewati benua afrika, timur Tengah dan akhirnya indonesia. BRIsat mengorbit pada 150,5 derajat bujur timur di ketinggian 36.000 km di atas Papua.

Dalam perjalanan peluncuran BRIsat ada istilah yang terus digaungkan yakni space humble. Manusia boleh merencanakan segala sesuatu tapi ketika alam berkata lain pupuslah segala rencana tersebut. Semua boleh dibuat dan dipersiapkan secara jeli. Namun pada akhirnya kesuksesan bisa diraih dengan pasrah. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya