SELALU ada alasan untuk tidak bersedekah. Apalagi di Jakarta, ibu kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini. Ketemu pengemis atau pengamen, misalnya, saya bisa beralasan bahwa ada peraturan daerah yang melarang bersedekah.
Kalaupun saya iba, ada alasan berikutnya untuk saya tidak bersedekah. Di media sosial banyak beredar hitung-hitungan penghasilan para pengemis yang sebulan bisa sampai puluhan juta rupiah.
Selain itu, banyak artikel yang bilang kalau memberi uang kepada pengemis itu bentuk pemanjaan yang membuat mereka tidak mau keluar dari kemiskinan dan memberi ruang eksploitasi anak.
Baiklah, mari bersedekah kepada yang lebih membutuhkan. Ketika terjadi bencana besar, banyak mahasiswa yang mengedarkan kotak sumbangan di jalan-jalan. Tapi, sedekah harus hati-hati bukan? Saya jadi curiga, ini mahasiswa betulan atau gadungan, ya?
Sering juga ada panitia pembangunan masjid menggalang dana di jalanan. Mereka memasang kotak amal atau mengangsurkan jaring besar. Entah kenapa saya tidak tergerak juga untuk bersedekah. Saya malah terusik untuk mengkritik penggalangan dana seperti itu meski hanya dalam hati.
Apakah saya jadi lebih mudah bersedekah ketika di rumah, ketika ada pengelola panti asuhan? Atau di masjid ketika kotak amal diedarkan? Atau ketika ada badan amal profesional yang menerima sedekah saya? Astagfirullah, ternyata saya punya lebih banyak alasan untuk tidak bersedekah. (H-3)