Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DATA mengenai konflik keagamaan di Indonesia dinilai belum memadai. Padahal, data tersebut sangat dibutuhkan setidaknya untuk sistem peringatan dini atau early warning system dalam menghadapi potensi terjadinya konflik keagamaan.
Untuk itu, Kementerian Agama (Kemenag) melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta melakukan riset Pola Pemberitaan Media Massa Mengenai Peristiwa Konflik Keagamaan. Hasil riset tersebut kemudian diseminarkan di Hotel Santika, Bogor, Jawa Barat, 17-18 Juni 2016.
"Tahun ini kami kembali melakukan riset pemberitaan media massa tentang konflik keagamaan. Periode pemberitaan yang diteliti ialah 2008-2015. Kami menggandeng Universitas Paramadina karena memang memiliki kompetensi dalam penelitian media massa dan kekerasan agama," ujar Kepala Balai Litbang Agama Anik Farida dalam sambutannya, Jumat (17/6).
Menurut Anik, riset sejenis pernah dilakukan pada 2008. Adapun periode pemberitaan yang diteliti ialah 2004-2007. "Tujuan riset ketika itu ialah membangun data set mengenai kekerasan dan konflik keagamaan. Ini penting buat Kementerian Keagamaan selaku organ pemerintah yang bertanggung jawab dalam kerukunan beragama di Indonesia," tegas Anik.
Untuk riset kali ini, sambung dia, penekanannya ialah untuk bagaimana intensitas konflik keagamaan diliput oleh media massa, pemosisian berita, dan nada pemberitaan terkait konflik keagamaan.
"Dengan penelitian ini, kami ingin terus memperbaharui data set kekerasan dan konflik keagamaan. Data ini penting bukan hanya buat kami, tapi juga TNI dan Polri serta lembaga-lembaga lainnya seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Data set ini juga memberi informasi daerah mana saja yang rawan konflik, bagaimana daerah tersebut mengelola konflik, resolusi, rekonsiliasi, dan memelihara perdamaian," lanjut dia.
Alasan lain dilakukannya riset media adalah karena media ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi bisa media massa bisa mempertajam konflik, namun di sisi lain untuk membantu mengatasi konflik.
"Kami ingin mengajak media memberikan pendidikan yang baik terhadap masyarakat soal perdamaian. Buat kami, media adalah agen kampanye perdamaian. Media termasuk penggiat perdamaian," tuturnya.
Wakil Rektor Universitas Paramadina Totok Amin Soefijanto selaku narasumber menyatakan penelitian mengenai konflik keagamaan sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Sesuatu yang dibutuhkan, imbuhnya, tentu akan dicari masyarakat.
"Kami pun berharap hasil riset ini menjadi pemicu untuk kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat serta perguruan tinggi dan akademisi. Bila perlu nanti dibuatkan tool atau software terkait hal ini," ungkap Totok.
Peneliti yang juga Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Suraya mengatakan pengumpulan data terhadap media cetak yang diteliti berlangsung antara 12 Maret 2016-12 April 2016. Ada tiga daerah yang dipilih, yakni Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. (Nav/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved