Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
YAYASAN Sukma dan wilayah otonom muslim Mindanao (Autonomous Region in Muslim Mindanao/ARMM) menandatangani nota kesepahaman (MoU) pemberian beasiswa kepada anak-anak di wilayah Filipina selatan.
Seperti dilaporkan wartawan Metro TV Rizki Amalia, penandatangan nota kesepahaman ini berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Filipina di Manila, Jumat (17/6).
Pihak Yayasan Sukma diwakili Deputi Chairman Media Group sekaligus ketua Yayasan Sukma, Lestari Moerdijat. Adapun pihak ARMM diwakili Kepala Staf Regional ARMM Rasol Mitmug. Penandatanganan MoU juga disaksikan langsung Duta Besar RI untuk Filipina Johny J Lumintang.
Lewat MoU ini, Yayasan Sukma memberikan beasiswa kepada 31 anak yang berasal dari Cotabato, Zamboanga, Basilan, Sulu, dan Tawi-tawi. Pemberian bantuan pendidikan itu merupakan salah satu bagian dari proses negosiasi pembebasan 10 orang warga negara Indonesia yang dilakukan antara Yayasan Sukma dan kelompok Abu Sayyaf melalui bantuan organisasi masyarakat Filipina, Basulta Contact Group pada bulan lalu.
"Basulta memang melihat yang bisa dan mudah membuka komunikasi (dengan kelompok Abu Sayyaf) adalah kesamaan pandangan terhadap pendidikan. Sebetulnya mereka (masyarakat Mindanao) sangat menginginkan terjadinya perdamaian sesegera mungkin. Mereka paham betul bahwa problem utama adalah rendahnya pendidikan di kalangan para pemberontak. Mereka melihat peningkatan pendidikan bisa menjadi salah satu upaya menyelesaikan permasalahan yang ada." ungkap Lestari.
Penerima beasiswa akan mendapatkan pendidikan secara penuh dari tingkat SMP hingga SMA di sekolah Sukma Bangsa Aceh, milik Yayasan Sukma. Mereka merupakan anak anak yang memiliki kekerabatan dengan kombatan serta warga sipil yang tinggal di daerah konflik.
Menurut Lestari, masyarakat Mindanao menyambut baik pelaksanaan kerja sama ini. Dari hasil perekrutan yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa kebanyakan warga di Filipina selatan enggan mengirim anak mereka ke sekolah untuk membatasi kontak dengan kelompok pemberontak.
"Yang ingin kami bagi adalah pengalaman Sekolah Sukma. Sekolah Sukma adalah sekolah yang didirikan dan basisnya percaya pada sebuah proses. Salah satu proses yang luar biasa ialah mentranformasi pemikiran anak-anak bahwa radikalisme tidak akan selesaikan permasalahan. Jadi inti utama pendidikan di Sukma Bangsa adalah menanamkan pemikiran dan prinsip perbedaan, memperkenalkan keragaman." kata Lestari.
Representatif Basulta Contact Group, Edmund Gambahali, menjelaskan, masyarakat di lima daerah tersebut menyadari bahwa lingkungan mereka saat ini bukan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan anak sebagai warga negara yang baik.
"Tempat tinggal mereka bukan tempat yang baik untuk membesarkan anak anak sebagai warga negara yang baik. Semua karena masalah peredaran obat-obatan, perbedaan suku dan etnis, serta perang. Itu masalah kami," jelas Edmund.
Oleh karena itu, kata dia, mereka menyambut pemberian beasiswa ini.
Yayasan Sukma meyakini generasi mudalah yang menjadi penentu perubahan di masa yang akan datang. Melalui pendidikan yang tepat mereka dapat mereduksi masuknya paham radikal ke masyarakat.
"Pengalaman kami di Aceh, para kombatan itu akhirnya mau keluar dari hutan setelah melihat sekolah anaknya bagus, mereka lalu berubah. Kalau anak-anak Mindanao sekolah di Aceh, mereka bisa merasakan pluralisme masyarakat, perbedaan budaya etnis suku bangsa, sehingga mereka terbiasa bertoleran," kata Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Sukma Komarudin Hidayat. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved