Beda Ekspresi Keislaman

MI/ Cri Qanon Ria Dewi
03/7/2015 00:00
Beda Ekspresi Keislaman
(Dok Salbiyah M)
MENJELANG berbuka puasa di stasiun radio multikultural 5EBI 103.1 FM Australia Selatan, Rabu (1/7), Dr Ahmad Rafiq dalam siarannya menyampaikan pesan hendaknya umat Islam tidak terjebak pada sisi material dari keberagamaan lokal yang dipraktikkan di wilayah Nusantara. Munculnya berbagai perbedaan ekspresi keislaman harus dihormati.

Lulusan Program Doktoral Department of Religion di Temple University Amerika pada 2014 itu mendorong gagasan Islam Nusantara yang tengah dikembangkan para cendekiawan dan tokoh-tokoh Islam Indonesia agar bisa diterima dengan baik oleh umat Islam. "Gagasan Islam Nusantara lebih merupakan cara berpikir yang hadir di tengah realitas ekspresi keberagamaan yang berbeda-beda karena mengikuti lokalitas masing-masing, dengan tetap mengacu ke nilai-nilai universal agama," kata ahli tafsir yang mengajar pada Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Dengan alasan itu, menurutnya, tidak ada alasan menolak bahkan menyesatkan sebagaimana dilakukan beberapa kalangan terhadap praktik-praktik agama Islam bermuatan lokal. Mirisnya lagi, dengan alasan pemurnian dan menjaga dari penyimpangan akidah, kasus-kasus 'penyesatan' terhadap keberagamaan lokal acap kali berujung tragis. Serangan terhadap dayah-dayah (pesantren) yang dituduh sesat di Aceh, seperti yang menimpa Tengku Ayub dan Tengku Barmawi, sampai merenggut nyawa dan pengusiran. Islam Wetu Telo Sasak pun menjadi semakin terdesak. Praktik-praktik tarekat mulai banyak yang disikat.

Langgam Jawa
Dalam siarannya, kiai yang mengampu beberapa majelis taklim di wilayah Sleman itu menilai bacaan Alquran langgam Jawa, yang beberapa waktu lalu sempat menjadi kontroversi ketika ditampilkan di Istana Negara, merupakan fakta yang tidak terhindarkan ketika Islam hadir dalam lokalitas yang sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat Indonesia.

"Membaca Alquran dengan langgam Jawa, seperti halnya langgam Persia, Mesir, dan lainnya, bisa diterima selama tidak melanggar tajwid, makhraj, dan mad yang menentukan bunyi bacaan dan makna. Sebaliknya, sekalipun menggunakan langgam Arab ataupun Mesir tetapi melanggar tajwid, makhraj, dan mad, itu jelas menyalahi standar bacaan Alquran yang benar," tegas Ahmad Rafiq yang sudah bertahun-tahun terlibat dalam penelitian agama-agama lokal di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU ANZ) Tufel Musyadad yang mendampingi siaran menuturkan, "Sejak awal Ramadan 2015 Ahmad Rafiq didaulat PCINU menyebarkan Islam rahmatan lil'alamin di Sydney, Melbourne, Brisbane, dan beberapa hari ini di Adelaide. Lawatan akan berlanjut ke negara bagian lainnya, Canberra dan Perth, juga menyeberang ke beberapa kota di New Zealand.

"Ia pun menambahkan dihadirkannya Kiai Ahmad Rafiq merupakan bagian dari misi PCINU ANZ membumikan Islam di Australia. April lalu, PCINU ANZ juga menghadirkan Kiai M Luqman Hakim PhD sebagai narasumber siaran dengan tema serupa, Membumikan Islam di Australia. Tufel sebagai salah satu pemandu siaran Radio Indonesia South Australia (RISA) di 5EBI mengatakan, "Program kerja sama yang dirintis sejak 2004 ini menjadi wadah informasi seputar tanah air soal isu-isu politik, budaya, dan keagamaan yang menjunjung semangat penghargaan dan perdamaian atas perbedaan.

"Selain RISA, stasiun radio 5EBI 103.1 FM membawahkan sekitar 45 anggota radio komunitas dari berbagai negara Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Celebrating our diversity menjadi slogan 5EBI untuk memperingati usianya yang ke-40.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya