UMAT Islam Indonesia sepatutnya bersyukur karena di bulan Ramadan ini dapat berpuasa dan beribadah lainnya dalam suasana tenang dan damai. Sebaliknya, kita layak prihatin dan sedih karena penduduk muslim di beberapa belahan dunia menjalankan ibadah puasa dalam kondisi perang. Hal itu terjadi di Irak, Afghanistan, Suriah, Yaman, Myanmar, bahkan di Tunisia dan Kuwait. Lebih memprihatinkan lagi dengan adanya konflik antarsesama muslim, seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Kuwait. Di kawasan tersebut, umat Islam harus berhadapan dengan saudara seagama.
Padahal, kata dosen dan Wakil Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar, seharusnya perang dilakukan untuk melawan orang musyrik. "Yang diperangi ialah orang musyrik karena Allah memerintahkan memerangi orang-orang musyrik sebagaimana mereka telah memerangi umat Islam. Akan tetapi, perang dan teror yang dilakukan ISIS terhadap kaum muslim seperti di Tunisia dan Kuwait serta di berbagai tempat tidak ditemukan dalilnya di dalam Alquran," jelas Musni di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ia berpendapat ISIS melakukan perang dan teror kepada sesama muslim pada dasarnya karena umat yang tidak mengikut ISIS dianggap musyrik atau kafir oleh mereka, maka wajib diperangi. Selain itu, mereka menganggap halal darah mereka yang memusuhi ISIS dan wajib diperangi serta dimusnahkan. "Pandangan semacam itu tidak ditemukan di dalam Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Dasar hukum yang mungkin dipergunakan ISIS untuk mengobarkan perang dan teror ialah menafsirkan ayat-ayat Alquran dan hadis sesuai kepentingan dan tujuan politik ISIS," ucapnya.
Perangi kebodohan Dengan begitu, kata dia, umat Islam Indonesia, terutama para pemuda Islam, sebaiknya tidak terbujuk apalagi terprovokasi untuk ikut ISIS. "Medan jihad masih terbuka lebar di Indonesia untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan yang masih dialami sebagian dari bangsa Indonesia. Perang melawan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan merupakan perintah Allah yang tercantum di dalam Alquran," tandasnya. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), jelasnya, sudah selayaknya memberi fasilitas beasiswa penuh bagi anak-anak dari keluarga miskin.
"Ini harus menjadi sebuah gerakan yang masif dilakukan sebagai bentuk jihad untuk memerangi kebodohan dan ketertinggalan umat Islam."Selain itu, bisa berjuang dengan memberi keterampilan kerja, berbagi pengetahuan bisnis atau usaha kepada masyarakat yang tidak mampu. "Kita bisa membantu memberi masukan tentang bagaimana mengatur tempat usaha, pemasaran, dan tentang order pekerjaan."
Musni Umar menambahkan, para pemuda muslim juga harus berjihad untuk mencapai apa yang termaktub dalam sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. "Sudah waktunya kita mendapatkan apa yang tertera dalam sila kelima Pancasila. Ini harus diperjuangkan oleh para pemuda muslim," jelas Musni.