Pemerintah dan 17 Kampus Siap Buka Prodi Dokter Layanan Primer

Syarief Oebaidillah
16/6/2016 20:42
Pemerintah dan 17 Kampus Siap Buka Prodi Dokter Layanan Primer
(Istimewa)

GUNA meningkatkan kompetensi para dokter di layanan primer agar bisa melakukan deteksi dini suatu penyakit, pemerintah membuka program studi (prodi) kedokteran layanan primer.

Hal itu dikemukakan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir dan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek seusai Rapat Koordinasi Prodi Dokter Layanan Primer di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Kamis (16/6).

Nasir menambahkan, untuk membuka prodi dokter layanan primer merupakan permintaan secara khusus Kemenkes untuk sementara dibuka di perguruan tinggi yang berakreditasi A. "Prodi ini sebetulnya program pendidikan tambahan untuk dokter. Masa kuliahnya minimal dua tahun," ungkap Nasir.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu mengemukakan terdapat 17 perguruan tinggi negeri dan swasta yang sudah siap. Di antaranya yang segera membuka prodi ialah Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Padjajaran, dan Universitas Airlangga.

Dijadwalkan pembukaan prodi pada 1 September 2016. Adapun pembukaan secara keseluruhan akan dilakukan bertahap karena tergantung kesiapan perguruan tinggi. Dijelaskan, pembukaan prodi ini merupakan sesuatu yang baru dikembangkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Dokter.

Sementara itu, Menkes Nila Moeloek menambahkan, prodi dokter layanan primer ini diperlukan guna meningkatkan kompetensi para dokter umum yang bertugas di layanan primer atau puskesmas. Para dokter umum tersebut harus meningkatkan kompetensinya agar tidak selalu merujuk pasiennya ke rumah sakit.

"Masyarakat kita banyak yang jatuh sakit. Penyakit jantung nomor satu, lalu kanker dan diabetes. Penyakit ini seharusnya bisa dicegah di layanan primer tadi atau puskesmas yang seharusnya sudah bisa mendeteksi penyakit tersebut," ujarnya.

Ditambahkan Nila, dokter di layanan primer perlu dikuliahkan lagi karena pihaknya melihat data sebanyak 80% pasien masuk rumah sakit, sedangkan hanya 20% yang berobat ke layanan primer.

"Seharusnya persentase di layanan primer itu 80%. Maka para dokter umum ini setelah mereka kuliah di prodi baru ini akan bisa langsung melakukan deteksi dini dan tidak lagi dengan mudahnya merujuk pasien ke rumah sakit," tegasnya.

Berdasarkan data Kemenristekdikti, pembahasan prodi dokter layanan primer ini sudah sejak 2014. Saat itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemenkes telah membentuk kelompok kerja. Pokja terdiri atas Kemristekdikti, Kemenkes, Konsil Kedokteran Indonesia, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia, dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian.

Prodi Dokter Layanan Primer atau DLP merupakan kelanjutan dari program profesi dokter dan program internsip yang setara dengan program dokter spesialis.

Dalam kesempatan sama, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Meilani Kumala mengatakan kampusnya termasuk berakreditasi A dan siap membuka prodi baru tersebut. Namun, dia mengaku kampusnya belum siap 100% sehingga belum mengetahui apakah tahun ini dapat membuka Prodi DLP. (Bay/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya