Puasa Sekaligus Berdiet

Fetry Wuryasti
03/7/2015 00:00
Puasa Sekaligus Berdiet
(THINKSTOCK)
MEREKA yang kegemukan kadang memanfaatkan ibadah puasa untuk menjalani program penurunan berat badan. Mereka berharap larangan makan dan minum di siang hari saat berpuasa bakal efektif untuk meluruhkan tumpukan lemak di badan.

Namun, harapan itu kadang tak terkabul. Alih-alih berat badan turun, setelah bulan puasa usai, justru jarum timbangan menunjuk angka yang lebih besar daripada biasanya. Di mana letak kekeliruannya?

Menurut dokter spesialis gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Fiastuti Witjaksono, ibadah puasa memang bisa dimanfaatkan untuk sekaligus menjalani program penurunan berat badan. Namun, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan.

"Ada syaratnya, yang pertama makan besar yang tadinya tiga kali sehari, pada saat puasa jadi dua kali sehari, yaitu pada saat sahur dan buka puasa. Lalu, jangan balas dendam. Jangan setelah waktu buka puasa tiba malah makan semua makanan, porsi makan tetap harus seperti biasa," ujarnya saat dihubungi pekan lalu.

Pemilihan menu, lanjut Fiastuti, juga harus diperhatikan. Perbanyak sayur dan buah, hindari goreng-gorengan serta makanan dan minuman manis.

"Boleh saja makan dan minum yang manis-manis saat berbuka untuk memulihkan kadar gula darah yang turun dengan segera, tapi jangan berlebihan.

"Ia menambahkan, jika sesudah Tarawih masih terasa lapar, disarankan untuk tidak makan besar lagi, cukup makan camilan (snack). Namun, lagi-lagi, dalam memilih jenis camilan juga harus hati-hati karena tidak semua snack baik untuk orang yang sedang melakukan usaha menurunkan berat badan.

"Kita harus berhati-hati karena snack pada umumnya padat kalori. Snack pada umumnya manis atau mengandung santan. Padahal, yang dibutuhkan snack rendah kalori, misalnya sayur dan buah. Agar-agar bisa jadi alternatif asal tidak pakai susu atau fla. Sausnya bisa diganti dengan buah yang diblender," tuturnya.

Olahraga
Sependapat dengan Fiastuti, dokter spesialis kesehatan olahraga Michael Triangto juga mengatakan puasa bisa menjadi jalan untuk menurunkan berat badan, tetapi harus terprogram dengan mencakup pengaturan makan dan olahraga.

"Di India, ada beras taj mahal yang katanya bisa membuat orang yang memakannya menjadi kurus, tapi faktanya orang India, khususnya Taj Mahal kebanyakan gendut. Selanjutnya, vegetarian hanya makan sayur dan buah, tapi mereka makin tua makin gemuk. Padahal, tidak makan daging. Jadi intinya, apa pun makanannya jika tidak diimbangi dengan olahraga, tidak akan berpengaruh terhadap usaha penurunan berat badan," jelas dokter yang berpraktik di Slim+Health Sport Therapy, Jakarta, itu.

Ia menambahkan, olahraga yang cocok untuk mengatasi kegemukan ialah jenis kardiorespirasi atau aerobik, yakni olahraga dengan gerakan yang dilakukan berulang-ulang dengan waktu cukup panjang, minimal 30 menit. Contohnya, jalan cepat, bersepeda, dan treadmill. Namun, saat puasa banyak orang mengkhawatirkan akan keletihan bahkan dehidrasi karena berolahraga. Untuk itu, Michael menyarankan pengaturan waktu olahraga agar tidak mengganggu puasa.

"Saya sarankan olahraga setelah sahur. Yang ringan saja seperti aerobik tadi. Olahraga juga meningkatkan metabolisme sehingga jam 2-3 siang kita tidak mengantuk," tuturnya. (Theresia Butar Butar/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya