Seteguk Iman di Negeri Komunis

Puji Santoso
03/7/2015 00:00
Seteguk Iman di Negeri Komunis
(MI/Puji Santoso)
NINGXIA merupakan provinsi dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Tiongkok. Dari 6,3 juta jiwa total jumlah penduduk di provinsi itu, sebanyak 36% atau sekitar 2,3 juta beragama Islam. Provinsi itu menjadi satu dari tiga provinsi yang mayoritas dihuni kaum muslim. Dua provinsi lain ialah Qinghai dan Xinjiang.

Jumlah kaum muslim di Ningxia, Qinghai, dan Xinjiang ikut menyumbang jumlah total kaum muslim di Tiongkok yang mencapai angka sekitar 23 juta jiwa atau 1,7% dari total penduduk 'Negeri Tirai Bambu' yang mencapai 1,3 miliar jiwa.

Saking banyaknya populasi kaum muslim di provinsi dengan luas wilayah sekitar 60.000 kilometer persegi itu, pemerintah Tiongkok di Beijing memberikan otonomi khusus kepada umat Islam setempat untuk mengatur diri mereka sendiri.

Yang Fa Ming, Ketua Majelis Ulama Ningxia, yang saat ini tercatat masih menjabat sebagai anggota parlemen di Tiongkok dan merupakan Wakil Ketua Presiden Islam di seluruh daratan negeri itu, mengatakan sejak 1936 Ningxia menjadi satu-satunya provinsi yang diberikan otonomi khusus dalam mengembangkan Islam.

Menurut dia, otonomi khusus di Ningxia ditunjukkan dengan berbagai keistimewaan yang diberikan pemerintah komunis yang berkedudukan di Beijing.

Selain otonomi dalam bidang agama dan hukum Islam, otonomi yang diberikan pemerintah Tiongkok antara lain kebebasan memiliki anak lebih dari satu orang, mengatur perkawinan, membangun masjid-masjid, melaksanakan musabaqah tilawatil Quran (MTQ), dan memiliki gubernur yang wajib beragama Islam.

"Khusus untuk bidang pertahanan dan diplomatik, itu diatur oleh pemerintah pusat di Beijing," kata Yang Fa Ming kepada Media Indonesia di Kantor Majelis Ulama Ningxia di Yinchuan, ibu kota Provinsi Ningxia, Tiongkok, baru-baru ini.

Penduduk muslim Ningxia, kata Yang Fa Ming, umumnya berasal dari suku atau marga Hui. Menurut catatan ilmuwan muslim Tiongkok, marga Hui itu sudah ada sejak zaman Dinasti Tang dan Dinasti Ming pada 651 Masehi. Leluhur mereka umumnya berasal dari keturunan campuran Persia, Arab, Mongol, dan Tiongkok.

Meskipun hidup sebagai minoritas, umat Islam di Tiongkok, khususnya di Ningxia, kian waktu semakin menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Pemerintah Tiongkok sejak dipimpin rezim Mao Tse Tung telah memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi rakyat untuk mengembangkan agama mereka, termasuk kebebasan mempelajari dan memilih agama Islam sebagai ideologi mereka.

Kalau selama ini arah mata dunia ditujukan ke daratan Tiongkok karena pembangunan ekonomi melesat tajam, kini tidak salah pula jika mata dunia juga melihat perkembangan Islam, khususnya di Ningxia yang notabene berada di negara komunis.

Menjaga toleransi
Di Ningxia, majelis ulama setempat sangat mendorong penduduknya untuk giat belajar kajian-kajian keislaman di sejumlah lembaga pendidikan Islam yang ada di Yinchuan.

Meskipun harus berdampingan dengan empat agama lain yang diakui pemerintah, yakni Taoisme, Buddha, Katolik, dan Kristen, umat Islam di Ningxia tetap kukuh memperlihatkan eksistensi mereka.

Jumlah imam masjid sebanyak 9.400 dan jumlah masjid sebanyak 4.400 di seluruh Ningxia. Jumlah tempat ibadah terbanyak jika dibandingkan dengan tempat ibadah agama lain itu tidak lantas menjadikan umat Islam Ningxia menjadi jemawa. Kerukunan umat beragama di Ningxia menjadi hal yang wajib dipahami dan dilaksanakan penduduknya.

Saking seriusnya menjaga hubungan toleransi dan kerukunan antaragama, mereka menerapkan itu hingga ke sekolah dan lembaga-lembaga resmi. "Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi wajib diajarkan masalah kerukunan di Ningxia," ujar Yang Fa Ming. (M-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya