Bentuk Sistem Pendidikan Berbasis Potensi Wilayah

Tes/X-7
03/7/2015 00:00
Bentuk Sistem Pendidikan Berbasis Potensi Wilayah
Diskusi buku Obrolan Pembaca MI (OPMI), di Kedoya, Jakarta, kemarin.(MI/ADAM DWI)

SISTEM pendidikan di Indonesia salah memaknai keragaman budaya, bahasa, dan kehidupan sosial yang dimiliki tiap-tiap wilayah. Kebinekaan kerap dijadikan alat, bukan acuan dalam merumuskan model pendidikan yang ideal. Alhasil, seluruh siswa dan sekolah dari Sabang hingga Marauke dipaksa mengikuti sistem pendidikan berbasis sentralisasi.

Padahal, sistem pendidikan yang efektif ialah bagaimana menumbuhkan potensi dari suatu wilayah sehingga baik pendidik maupun peserta didik memiliki semangat untuk menyalurkan keunggulan dan optimisme. Ketika penyeragaman diberlakukan, yang muncul ialah jiwa anak murid yang kurang berkarakter dan monoton.

Pengamat pendidikan Komaruddin Hidayat mengemukakan hal itu dalam diskusi buku Manajemen Sekolah Efektif, yang bertema Dari Sekolah Sukma Bangsa untuk Indonesia.

"Setiap wilayah memiliki ciri khas dan potensi berbeda. Harusnya poin ini yang dititikberatkan dalam mengemas sistem pendidikan. Bukan malah diseragamkan layaknya robot," ucap Komaruddin di kantor Media Indonesia, Jakarta, kemarin.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta itu juga menekankan agar hubungan antara daerah dan pusat pun tidak boleh renggang. Pemerintah, sekolah, universitas, dan tenaga pengajar harus intens berkomunikasi agar apa yang dimaksudkan tiap-tiap pihak tentang sistem pendidikan yang tepat dapat tersampaikan dengan baik.

Terhadap Sekolah Sukma Bangsa yang berdiri cukup lama di Aceh, Komaruddin menaruh apresiasi. Dia berpendapat sekolah yang berada di bawah naungan Media Group tersebut mempunyai karakteristik sistem pendidikan unik.

Anak-anak di sekolah tersebut diberikan kesempatan untuk berekspresi seluas-luasnya dengan tetap bertanggung jawab.

Ahmad Baedowi, penulis buku Manajemen Sekolah Efektif pun berpandangan sama. Ia menekankan porsi sistem kurikulum pendidikan yang diterapkan pemerintah sebaiknya hanya memberi pedoman. Implementasinya diserahkan ke wilayah masing-masing.

"Biarkan sekolah mengembangkan kurikulum berdasarkan potensi anak. Misalnya, minat belajar anak lebih ke materi pelajaran biologi atau matematika, jam belajarnya pun tidak boleh disamaratakan," urai Baedowi.

Pakar pendidikan HAR Tilaar menilai masih banyak kesalahan dalam sistem pendidikan di Indonesia. "Termasuk pola yang hanya mementingkan kompetisi, padahal yang dibutuhkan ialah kolaborasi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya