Pelantang

*/H-1
02/7/2015 00:00
Pelantang
(MI/ATET DWI PRAMADIA)
JIKA ada debat yang paling bising suaranya, sepertinya itu ialah debat tentang pengeras suara. Tepatnya, pengeras suara masjid. Namun, Anda salah kalau hanya menyalahkan Pak JK, Wakil Presiden, selaku Ketua Dewan Masjid pernah membahas masalah pengeras suara. Pak Budiono, wakil presiden periode lalu juga sama, pernah menyatakan kegelisahan atas soal ini di forum resmi Dewan Masjid Indonesia.

Kalau dua pejabat kedua tertinggi pemerintahan negeri ini saja sudah bersuara untuk urusan pengeras suara masjid, mestinya ini bukan urusan yang main-main. Makanya, saya maklum kalau urusan ini memancing perdebatan panas, terutama di media sosial.

Yang setuju ada pengaturan pengeras suara masjid, mereka beralasan karena pulang kerja jauh malam dan baru mulai nyenyak tidur eh malah terganggu dengan pengeras suara masjid yang kadang sudah dimulai jauh sebelum waktu subuh tiba.

Ada yang mengiakan karena sering ketemu suara pengajian di hari Sabtu dan Minggu, ketika mestinya bisa berleha-leha menikmati liburan. Ada yang menambahi bahasan dengan muatan soal toleransi beragama.

Para pembela pengeras suara masjid dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa menyuarakan dan menyampaikan kebaikan dan dakwah ialah wajib hukumnya. Makin keras dan kencang, kian sering dan rutin, semakin bagus dan besar pahalanya.

Di negeri dengan mayoritas muslim ini, tidak boleh ada pengaturan pengeras suara masjid hanya karena alasan toleransi. Apalagi harus mengalah sekadar memenuhi keinginan para pemalas dan tukang tidur. No way! Kalau saya tidak salah memahami, demikianlah pendapat dan pemikiran para pembela pengeras suara masjid ini.

Masih untung tidak ada pengeras suara gereja, pura, wihara, atau kelenteng. Setidaknya, setahu saya memang hanya masjid yang memiliki pengeras suara sehingga perdebatan ini tidak melebar dan membesar ke mana-mana, lebih banyak bersambut dan bersahut di antara sesama muslim saja. Mungkin juga, saudara-saudara kita yang nonmuslim terganggu juga dengan pengeras suara masjid ini, tapi mereka lebih bertenggang dan berhitung agar tidak memancing isu SARA yang bisa membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kalau sudah begitu, saya akan kembali kepada diri sendiri saja. Mungkin pengeras suara masjid yang terkadang masih mengusik ketenangan hidup saya itu adalah cermin dari kurangnya keimanan saya. Atau, bisa jadi karena saya terbiasa mendengarkan apa yang ingin saya dengar, bukan apa yang perlu dan seharusnya saya dengarkan.

Mungkin, sudah saatnya saya melantangkan doa dan ibadah kepada-Nya, terutama ke dalam hati saya sendiri. Sebelum melantangkannya melalui pengeras suara masjid, yang malah berulang kali menimbulkan perdebatan yang bising sekali.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya