Operasi Bariatrik Solusi Obesitas

Fetry Wuryasti
01/7/2015 00:00
Operasi Bariatrik Solusi Obesitas
()
KEBIASAAN makan berlebihan dan minimnya gerak merupakan penyebab utama obesitas. Karena itu, teknik mengatasi gangguan kesehatan sekaligus penampilan itu ialah dengan mengurangi asupan makan dan memperbanyak olahraga.

Namun, kedua langkah itu tidak selalu sukses. Banyak penderita obesitas gagal dalam menjalani program diet karena berbagai sebab. Alhasil, masalah obesitas mereka tak teratasi, bahkan bertambah parah.

Sejatinya, ada alternatif solusi yang bisa ditempuh, yakni tindakan operasi bariatrik yang berprinsip mengurangi kapasitas lambung. Operasi itu bukanlah tindakan berlebihan karena dalam dunia medis obesitas memang digolongkan sebagai penyakit berbahaya yang harus diterapi secara serius.

"Obesitas memicu beragam komplikasi berbahaya. Salah satu diabetes melitus yang dikenal sebagai penyakit dengan banyak komplikasi juga," ujar dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit (RS) Gading Pluit, Jakarta, Benny Santosa, dalam seminar bertajuk Solusi Terkini Masalah Obesitas dengan atau tanpa Pembedahan, di RS tersebut, Sabtu (27/6).

Lantas, apa dan bagaimanakah operasi bariatrik itu? Pembicara lain pada seminar itu, Peter Ian Limas, menjelaskan operasi bariatrik pada prinsipnya merupakan operasi mengurangi volume lambung. Operasi itu dilakukan pada penderita obesitas berisiko berat yang tidak bisa ditangani hanya dengan diet, olahraga, dan obat-obatan.

Yang tergolong operasi itu yakni pengikatan lambung (adjustable gastric banding), bypass lambung atau gastric bypass, dan sleeve gastrectomy.

"Adjustable gastric banding merupakan pengikatan ujung lambung menggunakan gelang khusus untuk mengurangi kapasitas makanan yang masuk ke dalamnya," ujar dokter spesialis bedah saluran pencernaan itu.

Adapun bypass lambung merupakan operasi menyingkat saluran pencernaan dengan membuang sebagian besar lambung dan usus 12 jari. Jadi, makanan dari kerongkongan masuk ke kantong lambung yang tersisa lalu langsung masuk ke usus halus.

Adapun operasi sleeve gastrectomy dilakukan dengan memotong sebagian besar (sekitar 85%) lambung sehingga bentuk akhir lambung sesudah operasi berupa tabung vertikal mirip bentuk lengan baju (lihat grafik). "Karena itulah dinamakan sleeve gastrectomy," imbuh Peter.

Ia menambahkan ketiga teknik operasi itu bermanfaat mengurangi volume lambung yang berdampak pada berkurangnya asupan kalori dari makanan. Ketiga jenis operasi itu dilakukan dengan teknik laparoskopi, bukan bedah konvensional yang menimbulkan luka lebar.

Namun, setiap teknik ada kekurangannya. Pada pengikatan lambung, misalnya, langkah itu bisa menjadi tidak efektif jika setelah operasi pasien tetap makan banyak. Ketika pasien makan banyak, ia bisa muntah. Saat ia muntah, karet pengikat bisa melorot. Akibatnya, pengurangan volume lambung tidak lagi efektif. Adapun teknik bypass berisiko menyebabkan pasien mengalami kekurangan nutrisi.

"Teknik sleeve gastrectomy lebih aman, tidak menyebabkan malnutrisi. Makanan tetap melewati dan disimpan lambung beberapa saat dan teknik ini tidak melibatkan pembuangan usus."

Dibuangnya sebagian besar lambung pada teknik itu berdampak pula pada berkurangnya hormon pemicu rasa lapar yang terdapat pada bagian dinding lambung yang dibuang. Alhasil, pasien menjadi tidak mudah lapar.

"Kekurangan dari metode ini, di masa awal sesudah operasi bisa terjadi refluks asam lambung. Asam lambung mengalir ke kerongkongan, menyebabkan rasa terbakar di belakang tulang dada. Namun, itu hanya terjadi pada awal-awal pascaoperasi, terutama saat minum. Setelah lambung terbiasa, efek itu akan hilang."

Atasi diabetes

Dengan mengutip sejumlah literatur hasil penelitian, Peter mengungkapkan operasi bariatrik merupakan satu-satunya terapi yang efektif dan terbukti untuk kasus obesitas dengan BMI lebih dari 40 kg/m2. Teknik itu disarankan dilakukan mereka yang memiliki berat badan 100 kg atau lebih.

"Hasil penurunan berat badan rata-rata 55%-85% dari kelebihan berat badan. Penurunan berat mencapai 21 kg dalam 12 minggu pertama setelah operasi, sedangkan keberhasilan terapi gizi dan obat-obatan hanya 3%," tuturnya.

Tak hanya itu, lanjut Peter, operasi tersebut juga efektif mengatasi diabetes. "Umumnya, setelah enam minggu diabetes pada pasien akan membaik karena mereka pun mulai mengontrol jenis makanan yang mereka konsumsi. Sesudah operasi, pasien memang tetap diharuskan menjalani gaya hidup sehat dan menjaga asupan makan sesudah operasi," imbuh Peter.

Ditegaskan Peter, operasi bariatrik bukanlah operasi kosmetis seperti sedot lemak yang dilakukan hanya untuk memperbaiki penampilan. Operasi bariatrik merupakan solusi mengatasi penyakit obesitas.

"Durasi bedah kosmetis bisa mencapai 8 jam, tapi hanya menurunkan berat 6-8 kg. Malah, berat pasien biasanya akan melonjak lagi karena pola hidup yang salah," tukas dokter Peter. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya