Televisi

H-5
01/7/2015 00:00
Televisi
(MI/ATET DWI PRAMADIA)
KETIKA Ramadan tiba, saatnya kita memaki televisi. Eh, maaf, memaki pasti bukan kata yang tepat di bulan yang suci ini. Astaghfirullahaladzim.

Akan tetapi, televisi memang sering jadi musuh bersama dalam banyak kesempatan. Jangankan di bulan Ramadan yang penuh berkah yang mestinya kita isi dengan beragam ibadah ini, di hari-hari biasa saja ada banyak sekali protes dan kecaman terhadap ini dan itu siaran televisi. Ya acaranya, pengisi acaranya, sering juga stasiun televisinya. Mau sinetron, berita, komedi, musik, pertunjukan ngobrol alias talkshow, sampai reality show yang tidak layak diterjemahkan 'pertunjukan kenyataan' saking kelihatan banget bikin-bikinannya.

Jadi, apa yang diprotes para penonton televisi? Soal kekerasan yang ditampilkanlah, pornografilah, tidak mendidiklah, tidak logislah, mistiklah, macam-macamlah. Pokoknya, siapa saja boleh menampilkan diri sebagai seorang pakar ketika berhadapan dengan televisi. Pengamat yang pintar dan bisa berbusa-busa menunjukkan bahwa cerita sinetron ini tidak masuk akal, mengingat betul bahwa ruang tamu rumah tokoh A di sinetron B sama persis dengan sinetron C. Bahwa di tokoh jahat FTV D punya tabiat dan modus serupa dengan tokoh jahat FTV E. Bahwa yang diculik di reality show F menjadi penculik di reality show G, lalu kesurupan di reality show H. Demikian seterusnya sampai seluruh abjad habis digunakan untuk menunjukkan bahwa kita adalah penonton setia televisi.

Apalagi kalau sudah berurusan dengan soal-soal politik dan pemerintahan. Wah, rasanya kita bisa menemukan ahli-ahli politik di warung kopi, gang kampung, dan pangkalan ojek. Yang namanya akademisi dan ilmuwan serta praktisi politik yang sering muncul di televisi, rasanya tidak kita perlukan lagi. Kalau perlu, presiden kita boleh melakukan reshuffle kabinet setiap bulan atau bahkan seminggu sekali, hanya perlu keluar sebentar ke pengkolan jalan di pojokan kampung untuk menemukan calon-calon menteri yang lebih bisa diandalkan sebagai pembantu-pembantu barunya, menggantikan pembantu-pembantu lama yang bikin kecewa banyak orang.

Namun, di era demokrasi ini, setiap orang memang boleh bilang apa saja tentang televisi. Saya belum pernah menemukan satu rumah pun yang pernah saya datangi tanpa ada benda yang satu ini. Mau sekaya dan semiskin apa, rasanya televisi adalah satu benda yang tidak boleh tidak ada di rumah mereka, bahkan di bandara, stasiun, terminal, atau pangkalan ojek.

Televisi adalah musuh kita bersama. Musuh yang kita pelihara dan cintai. Cermin kenyataan yang sama-sama kita benci. Seperti televisi yang kita musuhi, tapi ternyata jadi bagian dari kehidupan kita, mungkin seperti itu juga kita dengan setan. Wiih, saya bijak gini, ya. Haha....



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya