Haji, Manasik, dan Syiar

*/H-1
01/7/2015 00:00
Haji, Manasik, dan Syiar
(MI/SENO)
TAFSIR Al-Mishbah kali ini menjelaskan tentang makna Surah Al-Hajj ayat 26 sampai 32. Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang kaum musyrik menghalangi manusia dari Islam dan dari Masjidil Haram, serta seruan Nabi Ibrahim AS untuk berhaji.

Pada ayat 26, menjelaskan ketika Allah SWT menempatkan Nabi Ibrahim AS di Baitullah dan berkata, "Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.

"Dilanjutkan ayat 27, yang berisi, "Dan, serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.

"Pada ayat 28 dijelaskan, "Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka, dan agar mereka menyebut nama Allah SWT pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Selanjutnya dijelaskan pada ayat 29, "Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).

"Ayat 26 hingga 29 Surah Al-Hajj, berisi perintah Alah SWT kepada Nabi Ibrahim AS agar memerintahkan umatnya tidak mempersekutukan Allah, dan Allah tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini.

Terdapat juga perintah Allah kepada Nabi Ibrahim agar menyerukan kepada manusia untuk melakukan ibadah haji. Ketika menunaikan ibadah haji manusia akan mendatangi Baitullah dengan berbagai cara, mulai dari berjalan kaki, ataupun dengan mengendarai unta. Dan manusia-manusia itu datang dari berbagai penjuru dunia.

Sesungguhnya Allah memerintahkan manusia untuk beribadah haji agar mendapatkan berbagai manfaat sambil menyebut nama Allah SWT. Dan, perintah Allah untuk melakukan ibadah kurban.

Pada ayat 30 berisi penjelasan mengenai perintah Allah tersebut. Disebutkan orang mengerjakan perintah Allah tersebut akan mendapatkan tempat yang terhormat (humurat) di hapadan Allah SWT. "Demikianlah (perintah Allah).

Dan, barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumat) maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan, dihalalkan bagi kamu semua hewan ternak, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya) maka jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu, dan jauhilah perkataan dusta."

Pada ayat 31, disebutkan, "(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.

"Ayat 32 pun menjelaskan, "Demikianlah (perintah Allah). Dan, barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.

"Ayat 31 hingga 32 dijelaskan bahwa beribadah dengan ikhlas kepada Allah SWT tanpa mempersekutukan-Nya adalah yang terbaik. Disebutkan, bahwa manusia yang mempersekutukan Allah SWT akan mendapat azab, mereka seolah-olah dijatuhkan dari langit lalu disambar petir. Azab itu akan sangat pedih sekali.

Sebaliknya, bagi mereka yang melakukan perintah-perintah Allah SWT dan mengagungkan syiar-syiar-Nya dan melakukan dengan ikhlas dan setulus hati maka mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya