Pendidikan untuk Semua

Fario Untung
11/6/2016 06:05
Pendidikan untuk Semua
(MI/Sumaryanto)

BANYAK yang tahu bahwa anak-anak dari keluarga ekonomi rendah dan kurang beruntung di Indonesia banyak berprestasi di dunia pendidikan.

Di balik prestasi itu, ternyata banyak yang lupa siapa yang mengajar murid-murid itu.

Mereka ialah orang-orang yang terketuk hatinya menolong anak-anak itu.

Pepatah menjadi penolong bagi sesama yang kurang mampu sangat cocok disematkan kepada Brigadir Rochmat Tri Marwoto.

Berkaca pada pengalaman pribadinya yang susah payah mencapai sarjana, ia bertekad mengasuh dan menyekolahkan anak-anak tidak mampu. Sikap mulia itu dilakukan Rochmat demi melihat anak-anak tidak mampu itu kelak bisa berprestasi di masa depan.

Anggota Brigade Mobile (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur itu secara ekonomi terbilang pas-pasan.

Namun, di bawah naungannya ada sekitar 12 anak, laki-laki dan perempuan, yang disekolahkan dan ditampung di rumahnya di Madiun, Jawa Timur.

Semua anak asuh itu banyak berasal dari jalanan, rumah yatim piatu, dan yang ditelantarkan orangtua.

Ia mengasuh mereka untuk mengembangkan bakat yang dimiliki setiap anak dan bahkan menyekolahkan mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia pun mengasuh seluruh anak-anaknya seperti anak sendiri dan tak pernah membeda-bedakan antara satu anak dan anak yang lainnya.

"Bagi saya mereka semua sama. Tidak ada yang berbeda dan saya bersama istri menganggap mereka semua seperti anak kandung saya," jelasnya.

Bakat

Tak hanya itu, Rochmat bersama istri pun tak pernah membatasi segala bakat dan minat yang dimiliki anak-anak asuh mereka.

Salah satu anak mereka yang memiliki bakat bela diri diberi pelatihan di padepokan.

Bahkan, di halaman rumah mereka, dibuat sebuah padepokan untuk berlatih.

Sementara itu, anak yang memiliki bakat di bidang musik, Rochmat mempersilakan mereka untuk mengikuti kegiatan seni karawitan.

Pasalnya, seni itu merupakan salah satu budaya Indonesia yang masih perlu dilestarikan kepada generasi muda.

Siapa sangka pada 2007 ketika pertama kali membantu anak-anak yang kurang mampu, Rochmat hanya mendapatkan gaji dari institusi kepolisian sekitar Rp1 juta.

Namun, semua itu tidak berlaku baginya karena setiap orang itu harus berguna bagi orang lain.

"Bagi saya, istri, dan keluarga, materi itu bukanlah segalanya, melainkan bisa berguna untuk banyak orang ialah materi yang terindah selama hidup," tegas Rochmat.

Bagi Rochmat, pendidikan ialah yang nomor satu untuk menopang kehidupan seseorang.

Oleh sebab itu, meski dirinya tidak, berlebih bahkan paspas an di sisi ekonomi, dirinya tetap memaksakan diri untuk berkuliah dan akhirnya lulus sebagai seorang sarjana hukum.

"Bagi saya pendidikan itu nomor satu. Dengan modal pendidikan, seseorang bisa mengubah nasibnya dan tentu berguna bagi banyak orang di masa depannya," sambungnya.

(M-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya