Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar meminta PWNU Jatim untuk segera melakukan pendekatan kepada pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Mambaul Hikam di Kabupaten Blitar yang menjadi penyelenggara salat tarawih superkilat.
"Praktik salat tarawih superkilat yang dilaksanakan oleh salah satu pondok pesantren di Kabupaten Blitar itu justru mengabaikan substansi dari tarawih itu sendiri," katanya di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (10/6).
Secara bahasa, kata 'tarawih' merupakan bentuk plural (jamak) dari kata 'tarwihah' yang artinya istirahat.
Dalam praktik yang dicontohkan oleh salafus salih (generasi terdahulu umat Islam), para jemaah mengambil jeda atau istirahat setiap empat rakaat (dua kali salam).
"Waktu jeda tersebut diambil setelah mereka melakukan salat yang cukup panjang dalam empat rakaat tersebut," kata Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu.
Jeda tersebut diisi dengan beragam kegiatan, seperti salat dan membaca Alquran, setelah para jemaah melaksanakan salat dengan durasi yang cukup panjang.
"Demikianlah tradisi qiyamul Ramadan/tarawih yg dipraktikkan Nabi dan para sahabat," katanya.
Menurut dia, tujuan salat ialah untuk mengingat Allah SWT (Quran Surah Thaha 14), karena itu salat yang baik seharusnya tidak menghilangkan tumaninah (tenang) dalam setiap gerakannya. Tidak tergesa-gesa, apalagi superkilat.
Bahkan, hadis oleh At-Tirmidzi dan An-Nasai dari Al-Fadl bin Abbas menyebutkan salat itu haruslah engkau (dalam keadaan) tenang, merendahkan diri, mendekatkan diri, meratap, menyesali dosa-dosa, dan engkau meletakkan kedua tanganmu lalu mengucapkan Wahai Allah, Wahai Allah. Barang siapa yang tidak melakukan (hal itu), maka salatnya itu kurang.
Dalam Hadis Riwayat Muttafaq Alayh menyatakan jika salat akan didirikan, janganlah kalian berdiri hingga melihatku dan hendaklah kalian melaksanakan salat dengan tenang.
"Nah, tarawih superkilat di Blitar itu tidak ada ketenangan (tumaninah) sama sekali. Itu jauh dari tarawih secara definisi. Mereka salah memahami kitab rujukannya," katanya.
Sebelumnya, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam, KH Dliyauddin Azzamzammi, mengatakan, tradisi salat tarawih cepat di pondoknya sudah berlangsung selama satu abad lebih, sejak kakeknya menjadi pengasuh pondok pesantren.
"Alasannya, saat itu banyak warga yang enggan ikut salat tarawih, karena siangnya bekerja sehingga badannya capek dan penat, sehingga dengan tarawih cepat ini, membuat para jemaah menjadi tertarik untuk datang ke masjid dan ikut melaksanakan salat tarawih," katanya.
Meski cepat, salat di Ponpes Mambaul Hikam itu dinilai tidak mengurangi rukun atau syarat salat atau keluar dari syariat hukum Islam, karena tumaninah itu ada waktu jeda untuk melafalkan Subhanallah, baik secara lisan maupun dalam hati.
Saat ini, Ponpes Salafiyah Mambaul Hikam mempunyai sekitar 1.000 lebih santri putra-putri dari berbagai daerah. Bahkan dari luar Jawa, seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Lampung. (Ant/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved