Sedekah

Soleh Solihun
30/6/2015 00:00
Sedekah
(MI/Atet)
SELALU ada alasan untuk tidak bersedekah. Apalagi di Jakarta, ibu kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini. Ketemu pengemis atau pengamen, misalnya, saya bisa beralasan bahwa ada peraturan daerah yang melarang bersedekah, yang memberi ancaman kurungan dan denda bagi yang melanggarnya. Ini serius lho, ya, ancaman itu bukan hanya untuk pengamen, pengemis, dan bahkan pengasong, juga untuk kita yang memberi uang kepada pengamen atau pengemis, pun membeli barang ke pengasong. Mau tahu hukumannya? Kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 30 hari atau denda paling sedikit Rp100 ribu dan paling banyak Rp20 juta.

Kalau saya tetap iba, ada alasan berikutnya untuk saya tidak bersedekah. Di media sosial banyak beredar hitung-hitungan penghasilan para pengemis di lampu-lampu merah, yang sebulan bisa sampai puluhan juta rupiah. Belum lagi berita-berita yang mengabarkan pengemis-pengemis dengan uang berjuta-juta ketika ditangkap dalam kegiatan penertiban umum. Selain itu, banyak juga tulisan yang bilang bahwa memberi uang kepada para pengemis itu merupakan bentuk pemanjaan sehingga mereka tidak mau keluar dari kemiskinan, memberi ruang eksploitasi anak, dan sekian banyak inspirasi lain untuk tidak bersedekah.

Baiklah, mari bersedekah kepada yang lebih membutuhkan. Di jalan yang sama, ketika terjadi bencana besar, seperti gempa bumi atau gunung meletus, banyak mahasiswa yang mengedarkan kotak sumbangan. Namun, sedekah harus hati-hati, bukan? Saya jadi curiga, ini mahasiswa beneran atau gadungan, ya? Kalaupun mereka mahasiswa beneran, sumbangan yang dikumpulkan beneran buat para korban bencana, nggak?

Tapi jalanan tidak menyerah mengajak saya bersedekah. Panitia pembangunan masjid sering juga membuka penggalangan dana di jalanan. Mereka memasang pengeras suara yang melantunkan ayat-ayat suci, khotbah, atau lagu-lagu irama padang pasir.

Kadang ada kotak amal dipasang di tengah jalan, sekalian agar kendaraan melambatkan lajunya, atau mengangsurkan jaring besar atau kotak kecil ke para pengendara. Entah kenapa saya tidak tergerak juga untuk bersedekah. Saya malah terusik untuk mengkritik kegiatan penggalangan dana seperti ini, meski hanya dalam hati.

Apakah saya jadi lebih mudah bersedekah ketika di rumah, ketika ada panitia pembangunan masjid, pengelola panti asuhan, yayasan sosial meminta sumbangan, atau di masjid ketika kotak amal diedarkan? Atau, ada badan amal profesional yang menerima sedekah saya? Astaghfirullah, ternyata saya punya lebih banyak alasan untuk tidak bersedekah. (H-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya