Sifat Ikhlas yang Mukhlas

MI/FETRY WURYASTI
30/6/2015 00:00
Sifat Ikhlas yang Mukhlas
Ketua Umum Badan Zakat Amil Nasional (Baznas) Didin Hafidhuddin(MI/ROMMY PUJIANTO)
SELAMA Ramadan, banyak sifat manusia yang bisa diasah. Salah satunya ialah sifat ikhlas. Sifat itu dilakukan seseorang bukan karena tanggung jawab kepada orang lain, atasan, pimpinan, atau jabatan, melainkan karena Allah SWT semata.

"Ketika Ramadan, seseorang akan lebih terasah rasa ikhlasnya, kesadarannya, bahwa puasa mereka lakukan hanya untuk Allah SWT semata. Dalam sebuah Hadis Qudsi dituliskan 'Setiap amal perbuatan untuk manusia kecuali berpuasa hanya untuk-Ku'. Hal itu karena pada hakikatnya puasa menjadi hubungan hanya antara individu dan Allah SWT," kata Ketua Umum Badan Zakat Amil Nasional (Baznas) Didin Hafidhuddin dalam tausiahnya di Kompleks Yatim Boarding School Ahbaabullah Center di Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Didin menyebutkan pada dasarnya manusia itu rusak, kecuali yang berilmu. Orang-orang yang memiliki ilmu akan rusak bila tidak mengamalkan ilmu mereka. Bahkan, orang yang mengamalkan ilmu pun akan rusak kecuali mereka ikhlas dalam melakukannya.

Lebih lagi, orang yang ikhlas pun terkadang juga akan diganggu rasa ingin dibalasbudikan. "Pada ikhlas terdapat dua jenis; mukhlis dan ada mukhlas. Mukhlis merupakan orang yang sadar bahwa dia berbuat baik dan ikhlas. Ikhlas pada mukhlis itu kadang kala masih bisa 'bocor'. Sementara itu, mukhlas ialah orang yang berbuat segalanya hanya karena dan kepada Allah.

"Menurut Didin, kedua jenis ikhlas tersebut bagus. Namun, mukhlas ialah yang terbaik dan ini perlu dilatih. "Apa yang bisa kita latih dengan ibadah berpuasa? Yaitu kemukhlasan. Kalau sudah ikhlas yang mukhlas, hidup seseorang tidak akan terasa susah. Dalam menjalankan hidupnya, dia akan berbuat dan berusaha dengan sungguh-sungguh dan tawakal menyerahkan hasilnya apa pun kepada Allah SWT."

Berpuasa
Didin mengutarakan ada pemahaman bahwa puasa Ramadan melatih individu hidup dalam suasana keislaman. Padahal, dalam Islam semua kegiatan yang di luar salat, seperti bekerja, beraktivitas, dan berbuat baik pun menjadi ibadah.

"Islam memiliki salat wajib lima waktu. Maksimal setiap kali salat hanya memakan waktu selama 15 menit, dikali 5 waktu salat hanya 75 menit. Sementara itu Allah memberi manusia waktu satu hari ada 24 jam, 22 jam sisanya itu juga merupakan bagian dari ibadah di luar salat. Ketika peradaban Islam maju, semua orang yang sibuk bekerja, ketika dengar azan, mereka berhenti untuk mengerjakan salat. Ada keberkahan ditanam, juga terlihat Islam mengajarkan manusia untuk disiplin.

"Ia pun mengutip Surah Al-An'am ayat 162, "Inna salati wa nusuki wa mayahya wa mamati lillahi rabbil aalamin, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

"Karena itu, tambahnya, kegiatan baik di luar salat juga merupakan bagian dalam ibadah. Oleh karena itu, bila individu melakukannya dengan sungguh-sungguh itu akan mengundang keberkahan dari Allah SWT, terlebih bila mereka berhenti sejenak dari aktivitas saat Allah memanggil untuk salat.

Didin pun mengutarakan keberkahan berpuasa pada Ramadan. Pada bulan penuh berkah tampak umat muslim berlomba untuk saling berbagi. "Semangat berbagi menjadi sangat luar biasa, tinggal kita mengaturnya, untuk amal, sedekah, infak, dan juga zakat."

Selain itu, lanjutnya, berpuasa pada Ramadan meningkatkan semangat berjemaah. Pada masa ini, individu menjadi bersemangat melakukan aktivitas berbuka puasa, sahur, beribadah tarawih bersama-sama. Semangat kebersamaan tersebut, menurut dia, harus terus dilakukan di luar Ramadan. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya