BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) menyatakan ketahanan keluarga di Indonesia pada saat ini tengah terancam. Hal itu disebabkan tingginya tingkat perceraian dan masih banyaknya keluarga yang belum sejahtera.
"Tingkat perceraian kita sangat tinggi, bahkan yang tertinggi di ASEAN. Hal itu bersama dengan masalah ekonomi akan membuat rumah tangga akan rapuh," sebut Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty di sela-sela acara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXII di Jakarta, kemarin.
Menurut catatan BKKBN, rata-rata perceraian di Indonesia mencapai 738 kasus setiap hari. Dari rata-rata itu, sebanyak 70% penggugat ialah perempuan, dengan mayoritas penyebab ialah kekerasan domestik dalam rumah tangga.
Tingginya angka perceraian menyebabkan jumlah kepala keluarga perempuan menjadi tinggi. Saat ini, sambung Surya, dari 67,6 juta kepala keluarga di Indonesia, 7,9 juta di antaranya ialah perempuan (single parent). Jumlah itu merupakan 11,6% dari total keluarga di negara kita.
Selain masalah perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga, faktor ekonomi menyebabkan ketahanan keluarga kita menjadi tergerus. Pasalnya, sebanyak 42% dari total kepala keluarga di Indonesia ada dalam golongan keluarga prasejahtera.
Selain itu, sebanyak 20%-nya tidak memiliki rumah dan 11% kepala keluarga tidak memiliki pekerjaan.
Pernikahan dini Di masa depan, kata Surya, salah satu upaya meningkatkan ketahanan keluarga ialah penekanan tingkat pernikahan dini yang masih tinggi. "Sebagian besar perceraian terjadi pada pasangan yang menikah muda. Pernikahan dini juga tidak baik bagi kesehatan.
"Sementara itu, Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Sudibyo Alimoeso menambahkan, salah satu cara terbaik untuk menekan tingkat perceraian ialah kebijakan mewajibkan pasangan yang akan menikah untuk mengikuti pembekalan pernikahan terlebih dahulu.
Dengan demikian, mereka bakal lebih siap dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Lebih jauh, Sudibyo menuturkan, selain menyebabkan tingginya tingkat perceraian, pernikahan dini berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan anak.
Pasalnya, anak perempuan tersebut belum memahami soal merawat anak dan pentingnya pemenuhan gizi bagi bayinya.
Musababnya anak perempuan tentu lebih mudah mengalami stres dalam menghadapi tekanan jika dibandingkan dengan perempuan dewasa.
Pernikahan dini juga menjadi faktor utama meningkatnya angka kematian ibu (AKI). Rahim perempuan yang menikah terlalu muda pada dasarnya belum siap benar untuk menjalani persalinan. Jika dipaksakan, risiko terjadi perdarahan dalam persalinan sangat tinggi.
Di sisi lain, lanjut Sudibyo, AKI di Indonesia terus saja meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal itu dapat dilihat dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, yang menunjukkan AKI meningkat tajam.
Dari 228 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada 2007, naik menjadi 359 kematian di 2012. (H-1)