Kedepankan Empati Bukan Cari Simpati

Din/S-25
29/6/2015 00:00
Kedepankan Empati Bukan Cari Simpati
(DOK KEMENHAN)
RYAMIRAZD Ryacudu kecil paham benar bahwa kemerdekaan Indonesia lahir bukan hadir sebagai hadiah. Sebagai anak tentara, lelaki kelahiran Palembang, 21 April 1950 ini sering kali ditinggal ayahnya yang pergi untuk memimpin pasukan gerilya. Kerja keras para pejuang itu menerbitkan kebanggaan pada bangsanya.

Itu pula yang menggerakkannya mendaftarkan diri sebagai tentara.

“Enggak ada yang nyuruh saya untuk jadi tentara. Mau sendiri walau ibu saya melarang. Itu sudah jadi panggilan jiwa. Mungkin juga karena ada keturunan ya,” ujarnya kepada Media Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Semasa berdinas, Ryamizard terlibat dalam empat belas operasi di daerah konflik. Salah satunya ialah operasi perdamaian di Kamboja.

Keterlibatannya dalam penanganan konflik memperluas cakrawalanya memandang dunia. Ia semakin yakin jika perang sebenarnya tidak perlu ada jika para pemimpin bangsa pandai merasa.

“Sekarang banyaknya yang merasa pandai, makanya kelahi melulu. Semestinya, pemimpin itu pandai merasa. Merasakan kalau negara begini akan jadi bagaimana.

Kalau dia pandai merasa, dia akan prihatin,” urainya.

Pemahaman itu kemudian diwujudkan dalam aksi nyata.

Ia mengisahkan saat dirinya berinisiatif memproduksi rantai karet tank Scorpion sendiri bersama dengan rekan-rekannya di Kostrad.

Bantalan karet itu diperlukan untuk menjaga agar rantai besi tank tidak peyot saat digunakan sekaligus mengamankan kondisi jalan.

Padahal, ia tidak pernah belajar perbengkelan sebelumnya.

“Setiap 2.000 km, karetnya harus ganti. Saya akhirnya buat sendiri dengan teman-teman cuma habis Rp50 juta. Padahal, kalau beli harganya Rp650 juta sepasang.

Saya bawa ke DPR, sepi tuh tanggapannya,” sahutnya terkekeh miris.

Berangkat dari pengalamannya itu, ia memprioritaskan pengembangan industri pertahanan dalam negeri sesaat ditunjuk untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kabinet Kerja JokowiJK.

Ayah tiga anak ini menegaskan, kapasitas sumber daya manusia Indonesia sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan sistem pertahanan dalam negeri.

Memproduksi kebutuhan alutsista sendiri juga diyakini mampu meminimalkan potensi korupsi.

“Jelas lah kita kalah kalau dibandingkan dengan yang sudah mencoba membuat seribu kali.

Kalau sekali masih ada enam koreksi, lalu kedua kali masih ada tiga koreksi. Hingga kelima kali mencoba sempurna. Bagus kan itu?” tanyanya retoris. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini kemudian merancang sejumlah program demi mempercepat laju industri pertahanan. Salah satunya dengan memerintahkan PT Pindad untuk membuat mesin tank sendiri.

Selama ini, Indonesia masih mengimpor mesin tank dari Prancis.

Ia juga berambisi untuk mampu memproduksi mobil bagi tentara sendiri. Pasalnya, kendaraan operasional yang digunakan tentara saat ini tidak seragam. Ia sudah mulai menanyai pihak yang siap untuk diserahi tugas tersebut.

Upayanya mulai membuahkan hasil. Indeks kekuatan bersenjata Indonesia mencapai 0,5321 poin dan menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 126 negara. Padahal enam bulan lalu, Indonesia masih menempati urutan ke-19 dari 126 negara. Ia menargetkan mampu memasukkan Indonesia ke posisi sepuluh besar dunia dalam waktu lima tahun.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya