Mabuk

Soleh Solihun
28/6/2015 00:00
Mabuk
(MI/ATET DWI PRAMADIA)
ADA banyak hal terlarang yang meskipun saya tahu itu terlarang tapi tetap saja dilakukan.

Melihat aurat perempuan misalnya.

Susah sekali saya menolak godaan itu, meskipun saya tahu itu artinya saya berdosa melakukan zina mata.

Bergosip alias menggunjingkan orang.

Masih susah untuk tidak melakukan itu dalam kehidupan sehari-hari, karena meskipun saya tahu itu salah satu perbuatan dosa, tetap saja yang namanya gosip, digosok makin sip.

Makin banyak peserta dalam membicarakan gosipnya, makin seru.

Lalu, meledek orang. Saya tahu, kata guru agama, kita tak boleh memanggil orang dengan nama yang jelek apalagi menghina.

Namun, sering kali saya kelepasan dan tak terkontrol dalam meledek orang lain.

Bukan hanya dalam pergaulan, melainkan juga di panggung stand-up.

Namun, dari sekian banyak yang dilarang oleh agama, hanya satu yang tak pernah saya langgar: mabuk-mabukan.

Mau itu mabuk minuman, mabuk obat terlarang, atau mabuk ganja, saya tak pernah sekalipun mencoba dan melakukannya.

Hanya mabuk cinta yang pernah saya rasakan.

He he...

Bukan maksud saya sok suci atau riya alias ingin dipuji ya.

Ada dua alasan utama saya tak suka dan tak mau mabuk.

Pertama, alasan finansial.

Mabuk itu butuh biaya.

Mau mabuk lem atau mabuk narkotika, semua butuh duit.

Saya termasuk orang yang pelit alias cheap bastard kalau bahasa Inggrisnya mah.

Sebagai seseorang yang sangat irit --mengingat sebelum punya pekerjaan selalu hidup pas-pasan--saya terbiasa untuk selalu melihat keuntungan ketika saya harus mengeluarkan uang.

Mabuk biasanya membuat hilang kesadaran.

Semakin mabuk, semakin sedikit yang teringat.

Setidaknya begitu yang sering saya dengar dari orang-orang.

"Gue blank semalem," kata mereka sambil tertawa.

Padahal, prinsip saya, kalau sudah mengeluarkan uang, saya ingin mengingat setiap detik momennya.

Makan makanan mahal, atau jalan-jalan, kan bisa diingat setiap detiknya.

Lah kalau mabuk?

Semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk mabuk, semakin kecil kemungkinan kita mengingat momennya.

Apalagi kalau mabuk di klub.

Bisa keluar uang jutaan rupiah untuk minuman keras tuh.

Kalau dipikir-pikir, uangnya kan bisa buat beli pakaian keren atau makan enak atau jalan-jalan yang membuat kita bahagia.

Mabuk katanya bisa menyalurkan masalah. Namun, masalah tetap bakal ada, setelah kita sadar.

Artinya, sudah keluar uang, eh masalah tetap tak hilang.

Lalu yang kedua, saya tak suka dengan konsep hilang kendali diri.

Jadi, meskipun ada yang mau mentraktir saya untuk mabuk-mabukan, saya tetap tak mau.

Meskipun duit tetap irit karena ditraktir, saya tak suka kehilangan kendali.

Ada juga yang pernah bilang ke saya, mabuk itu enak buat berbuat gila-gilaan.

Biar stres hilang.

Lah, kalau mau gila beneran mah, pergi saja ke luar, jalan-jalan tak pakai baju. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya