Bukan Seru yang Individual

Wnd/M-3
28/6/2015 00:00
Bukan Seru yang Individual
Suasana di Folks Co-Gaming Space, kafe sekaligus tempat bermain bersama di Kemang, Jakarta Selatan.(MI/ROMMY PUJIANTO)

MENGAKU penggila gim, berbagai permainan digital sudah khatam dijajal Danu Syaifullah. Namun, lama-kelamaan pria berusia 32 tahun itu jenuh. Meski canggih, gim-gim itu tetap terasa kurang.

Jawaban yang dicari nyatanya ia temukan di permainan yang dulu akrab dengan masa kecilnya, yakni monopoli dan permainan sejenisnya yang menggunakan papan serta berbagai permainan kartu. Intinya, permainan yang membuat Danu bisa berinteraksi langsung.

"Seru! (Ada) interaksi langsung, saling ejek meski hanya bercanda," ujar Danu, Jumat (26/6).

Hal itu pula yang terlihat di Play Day dan Folks Gaming Day, dua acara rutin kumpul main para penggemar permainan papan (board game). Play Day pada Sabtu (20/6) di Bandung, Jawa Barat, didatangi sekitar 20 muda-mudi.

Di salah satu meja lesehan, hari itu terlihat sekelompok pemuda asyik bermain Mat Goceng, sebuah permainan kartu dengan karakter khas kehidupan Betawi di era kolonial. Para karakter yang terdiri atas pendekar dan serdadu Belanda itu ditandingkan.

Di Kemang, Jakarta, Folks Gaming Day juga berlangsung seru. Ada sekitar 16 orang muda-mudi dan keluarga muda yang hadir pada Minggu (21/6) itu.

Peserta veteran dan pemula merasakan kehangatan yang sama. Bahkan, yang belum mengenal board game tidak perlu ragu datang karena ada banyak pemain yang bersedia mengajari. Jadi, mereka tidak sekadar bermain, tetapi juga bisa berinteraksi dengan nyata.

Hakikat bermain seperti itulah yang hilang di era permainan digital.

Seperti di Bandung, di Jakarta, board game dan cardgame asli Indonesia pun tersedia. Itu pula yang menjadi tambahan nilai positif.

Pemainnya sekaligus diajak mengenal lagi budaya dan sejarah Tanah Air.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya