Keakraban Gaza Obati Rasa Rindu

MI
26/6/2015 00:00
Keakraban Gaza Obati Rasa Rindu
(AFP)
RAMADAN bukan hanya dirindukan umat muslim di Indonesia, melainkan juga mereka yang ada di luar negeri. Terlebih, mereka yang tinggal di daerah konflik seperti Gaza, Palestina.

Bagi umat muslim Indonesia yang bermukim di sana, Ramadan menjadi momen-momen yang membuat mereka rindu dengan Tanah Air. Wajar saja, di saat keluarga mereka berkumpul dan menjalankan suasana puasa bersama di Indonesia, mereka justru berpuasa di negeri orang yang masih dilanda konflik peperangan.

"Hampir setiap Ramadan saya rindu bersama keluarga. Namun, kedekatan saya dengan masyarakat Palestina sedikit mengobati kerinduan itu," ungkap Edy Wahyudi, 45, yang saat ini masih tinggal di kawasan Gaza Utara, Palestina, kepada Media Indonesia, melalui pesan elektronik (Whatsapp), kemarin.

Edy yang menjabat Site Manager RS Indonesia di Gaza itu menjelaskan di tahun keempat ia menjalankan puasa di negeri penuh peperangan, ratusan masjid tempat mengalunkan azan dan bermunajat kepada Allah SWT masih porak-poranda dan menyisakan puing-puing tanda kekejaman Israel. Bahkan, puluhan masjid lain telah rata dengan tanah.

Menurut dia, pada Ramadan kali ini, masyarakat yang tinggal di jalur Gaza dengan panjang 41 kilometer (km) dan lebar 16-21 km atau luas sekitar 365 km persegi itu masih mengenang para korban meninggal akibat perang 51 hari tahun lalu yang menewaskan 2.140 orang.

"Akibat perang itu juga, kini ada 1.400 anak Gaza menjadi yatim piatu. Bukan hanya itu, 40% penduduknya mengalami cacat indra, baik penglihatan maupun pendengaran," tambahnya.

Melihat kondisi demikian, Edy dan keempat relawan asal Indonesia lain yang masih berada di Jalur Gaza bertekad bakal melakukan yang terbaik hanya karena Allah semata. Itu sebabya, di bulan Ramadan ini, Edy terus berdoa agar kelak dapat tercipta perdamaian di jalur Gaza, Palestina. "Saya pun terus berdoa agar keluarga saya di Indonesia tetap sehat walafiat," pungkas Edy.

Saling undang
Meski terus dilanda dengan konflik peperangan, bagi relawan Gaza asal Indonesia lainnya, Muhammad Husein, 27, Ramadan di sana merupakan hal yang memberi kesan tersendiri. Selama lima tahun berada di Gaza, Husein menyatakan berpuasa di sana sama saja dengan di negara lain.

"Namun di Gaza, puasanya lebih panjang, 16-17 jam. Alhamdulillah, nuansa Ramadan di Gaza tetap hidup. Bahkan, ada yang khas, tradisi saling undang istilahnya. Jadi, semua orang berlomba-lomba mengundang shaimin (orang berpuasa) untuk buka puasa bersama. Setiap orang punya target sebanyak-banyaknya,' tutur dia.

Dengan begitu, lanjut mahasiswa Islamic University of Gaza S1 jurusan Hukum Islam tersebut, tali silaturahim antarsesama muslim amat terasa. Kendati demikian, sebagai orang Indonesia, ia dan teman-teman relawan lain merasa ada yang kurang karena tidak ada kolak khas Indonesia.

"Ketika azan berkumandang, kami hanya meneguk segelas air putih dan tiga butir kurma," imbuhnya.

Dia melanjutkan selepas salat magrib, ada sajian makanan sejenis bubur dari kacang-kacangan yang dihancurkan. Di Palestina, khususnya di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina, makanan itu disebut humus.

Humus biasanya dimakan dengan salafi atau gorengan dari dedaunan yang dibentuk bulat-bulat dengan rasa renyah. "Adapun untuk makan besar, seperti umumnya makanan Arab, kami biasa makan dengan nasi kebuli," pungkas Husein. (Mut/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya