Melatih si Kecil Berpuasa Sehat

Dinny Mutiah
26/6/2015 00:00
Melatih si Kecil Berpuasa Sehat
(MI/Ramdani)
RAMADAN tahun ini dimanfaatkan Winda Widiastuti, 36, untuk mengajarkan ibadah puasa pada putra keduanya, Revano, 5. Sejumlah persiapan sudah dimulai sejak jauh hari, termasuk menerangkan makna puasa secara sederhana. Untunglah, putranya mau mengikuti.

"Awalnya rewel. Bukan lapar yang dikeluhkan, melainkan haus. Apalagi sekarang cuacanya panas," tuturnya, Kamis (25/6).

Ia pun mengatur siasat. Saat Revano mulai rewel, ia mengajaknya tidur siang. Keinginan untuk berbuka akhirnya bisa ditunda. Meski begitu, ia tidak memaksa putranya untuk berpuasa seharian penuh.

Langkah yang ditempuhnya cukup berhasil. Jika pada hari pertama Revano berbuka pada pukul 10.00, menginjak hari keenam berpuasa, ia mampu berbuka pukul 14.00. Semua dilakukan berdasarkan inisiatif anaknya sendiri.

Strategi kedua, Winda selalu memperhatikan nutrisi saat sahur maupun berbuka puasa. Setiap sahur, ia menghidangkan sayur berkuah kesukaan Revano. Sebagai pelengkap, ia memberi susu serta campuran madu dan air hangat untuk menambah stamina. Begitu pula saat berbuka puasa. Ia membiasakan putranya mengonsumsi buah-buahan setelah makan.

"Alhamdulillah, Revano tetap sehat."

Terakhir, Winda menjanjikan hadiah bagi Revano agar lebih bersemangat menjalani puasa perdananya. Strategi itu sebelumnya ampuh untuk memotivasi anak sulungnya. "Dia lihat kakaknya dapat sesuatu, dia juga mau. Saya sendiri enggak masalah. Biar puasanya seru," ujarnya.

Secara terpisah, psikolog Vera Itabiliana menyatakan mengajari anak sebuah konsep abstrak tidak boleh dipaksakan. Begitu pula ketika mengajari anak berpuasa. Pasalnya, kemampuan mereka untuk mencerna konsep abstrak baru sempurna saat mereka sudah mencapai tahap operasional formal, yaitu di usia 11 tahun ke atas.

"Tapi bukan berarti anak tidak bisa diajari berpuasa. Mereka bisa dikenalkan pada hal-hal yang konkret seperti enggak boleh makan minum, marah-marah, dan berkata kasar saat puasa," terang Vera dalam diskusi bertajuk Awali dengan Kiwi di Jakarta, Rabu (24/6).

Menciptakan suasana yang menyenangkan menyambut puasa juga diperlukan untuk membangkitkan minat anak berpuasa, misalnya dengan membuat prakarya bertema Ramadan, mengunjungi sanak keluarga, serta menghidangkan sajian khusus khas Ramadan.

Semua dilakukan tanpa paksaan dan ancaman agar anak tidak trauma. "Anak-anak enggak bisa dipaksain. Lakukan secara bertahap."

Pemberian hadiah sebagai imbalan atas perbuatan baik juga diperlukan untuk membangkitkan motivasi. Pasalnya, anak-anak memang belum cukup mampu untuk membangkitkan motivasi dari dirinya sendiri. Namun, Vera mengingatkan agar hadiah yang ditawarkan tidak berbentuk uang.

Pantau berat badan

Pada kesempatan sama, dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Fiastuti Witjaksono mengingatkan para orangtua yang hendak mengajak anaknya berpuasa harus memastikan dulu kondisi kesehatan mereka, sebab masa tumbuh kembang di usia 5 tahun ke bawah merupakan masa kritis untuk mendukung pertumbuhan di usia dewasa.

Karena itu, puasa yang dilakukan anak-anak jangan sampai menurunkan berat badan mereka. "Kalau grafik tumbuh kembangnya baik, enggak masalah diajak berpuasa."

Untuk itu, lanjut Fiastuti, menu sehat harus selalu tersedia di meja baik saat sahur maupun berbuka puasa. Menu sahur harus menyertakan sayur dan buah karena kandungan seratnya bisa mempertahankan rasa kenyang. Minuman manis sebaiknya dihindari karena meningkatkan risiko lapar.

"Pilih buah yang mengandung vitamin C tinggi karena antioksidannya tinggi, seperti kiwi. Kandungan vitamin C-nya tiga kali lebih tinggi daripada jeruk. Itu bagus untuk menghindarkan kita dari sakit karena kalau puasa kadang jumlah waktu tidur berkurang," tukasnya.(*/H-3)







Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya