SEJATINYA ibadah puasa yang dilakukan dengan totalitas akan mengikis benih-benih egoisme dalam diri manusia, terutama bagi umat Islam yang menjalani rukun Islam ketiga tersebut.
Bahkan dengan mengikis benih-benih egoisme itu, nantinya akan bisa melahirkan sikap altruisme atau sikap memerhatikan kepentingan orang lain dan memupuk toleransi.
Demikian benang merah ceramah tarawih Ramadan yang disampaikan oleh Ustaz Muhbib Abdul Wahab, di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (24/6) malam.
Menurut Muhbib, para ulama telah bersepakat bahwa egoisme merupakan salah satu penyakit berbahaya dan sifat egoisme tersebut cenderung negatif lantaran hanya mementingkan diri sendiri.
"Egoisme itu biasanya muncul karena dorongan hawa nafsu yang selalu ada pada diri manusia. Itu sebabnya Allah SWT kemudian mendesain bulan Ramadan agar selama sebulan penuh nafsu manusia itu bisa terkelola dengan baik, misalnya Allah telah melarang umat Islam makan dan minum serta berhubungan suami istri pada siang hari, tidak mempergunjingkan kejelekan orang lain, berbohong, mengadu domba, dan lain-lain," ungkap Muhbib yang juga dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.
Ia menjelaskan salah satu penyebab egoisme ialah hubud dunya atau cinta dunia, yakni kecenderungan manusia yang ingin mendapatkan apa saja tanpa mempertimbangkan serta memerhatikan hak dan kepentingan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, Muhbib mencontohkan perilaku egoisme itu pada perilaku berlalu lintas para pengemudi di Jakarta dan sejumlah daerah khususnya pengguna sepeda motor yang banyak menyerobot lampu merah, melewati trotoar, dan lain-lain.
"Kesemuanya itu yang mereka lakukan mencerminkan hanya mengejar kepentingan pribadi tanpa memerhatikan kepentingan orang lain atau para pejalan kaki yang berada di trotoar," kata lulusan doktor Ilmu Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Padahal, keteladanan untuk tidak bersikap egoisme itu pernah dicontohkan masa sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni kaum Anshor di Madinah yang menerima sangat baik kehadiran kaum Muhajirin (penduduk muslim Mekah yang hijrah ke Madinah).
"Mereka berlapang dada menerima kaum Muhajirin dengan semangat altruisme atau sifat itsar, yakni mendahului kepentingan orang lain. Ini membuktikan kecintaan para sahabat Nabi pada Allah dan Rasul dalam memerangi egoisme pribadi atau golongan," jelasnya.
Itu sebabnya, menurut Muhbib, dengan meneladani keteladanan sahabat Nabi, puasa yang dijalankan hanya karena iman kepada Allah dan Rasulnya akan melahirkan sikap dan totalitas berpuasa.
"Totalitas pada Allah itulah akan menumbuhkan sifat positif mengikis egoisme dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri," sambungnya.
Puasa awam Muhbib menjelaskan, dalam menjalankan ibadah puasa ada tiga tingkatan orang berpuasa. Tingkatan pertama ialah puasa orang awam atau orang biasa yang hanya mengelola menahan nafsu makan, minum, dan syahwat.
Tingkatan kedua, mereka yang berpuasa mampu mengelola pancaindranya secara positif, dan tingkatan ketiga, yakni tingkatan tertinggi bahwa orang berpuasa juga mampu memuasakan hati dan pikiran. "Inilah puasa totalitas yang menyeluruh dan dapat membebaskan diri kita dari egoisme dan sifat kebinatangan. Juga egoisme dalam kekuasaan dan menguasai orang lain," imbuhnya.
Ia mengingatkan sikap egoisme dapat menghambat sikap toleransi, tetapi melalui berpuasa yang melahirkan sikap menghormati orang lain, dapat memupuk sikap toleransi beragama, bermasyarakat, dan bernegara.
Karena itulah, ia berpendapat, jika umat Islam telah hidup berkecukupan, tidak masalah memberikan zakat atau sedekah kepada kalangan nonmuslim lainnya. "Secara normatif kita bisa berbagi kepada siapa saja," tukas Muhbib. (H-2)