Iklan

Soleh Solihun
26/6/2015 00:00
Iklan
(MI/Atet)
RAMADAN di layar kaca, meskipun berbeda program televisi yang hit di kalangan masyarakat, ada yang selalu sama setiap tahun, yaitu iklannya.

Di benak saya, paling tidak ada tiga produk yang paling gencar dan selalu saja menghiasi Ramadan, yakni produk sarung, produk minuman, dan produk mi instan.

Sarung sih masih bisa ditemukan di bulan-bulan lainnya. Ada satu minuman yang sepertinya hanya beriklan pada Ramadan. Kalau iklannya sudah tayang, itu artinya Ramadan sudah dekat. Saya tidak mau menulis namanya di sini karena saya rasa Anda sudah bisa menebaklah.

Akan tetapi, saya jadi bertanya-tanya tentang produk minuman itu hanya beriklan pada Ramadan apakah karena anggarannya terbatas? Ataukah karena memang minuman tersebut hanya enak dinikmati saat Ramadan?

Apakah pada bulan lain penjualannya tak bagus? Apakah mereka berpikir, kalau tayang pada Ramadan, dan dilihat orang yang berpuasa pada saat tengah hari yang notabene sedang haus-hausnya, orang akan tergiur untuk membelinya? Jangan-jangan, minuman itu hanya enak dilihat, tetapi ketika diminum setelah berbuka, mah, jadi tak menggiurkan lagi.

Kemudian, terakhir ada iklan mi instan. Itu iklan yang saya rasa paling dashyat. Biasanya digambarkan ada sebuah keluarga yang senang sekali dengan mi instan. Saat sahur, mereka makan mi instan. Saat berbuka, mereka juga makan mi instan. Begitu seterusnya, selama Ramadan. Mereka pun terlihat bahagia sekali ketika makan mi instan itu setiap hari selama satu bulan. Apa pun menu yang ada di meja makan kita, menu keluarga iklan mi instan tersebut selalu saja sama.

Salut, ya, kalau ada keluarga yang seperti itu. Bahagia sekali menunya selalu sama. Bukan apa-apa, baru seminggu sahur saja, saya kadang mulai bosan dengan menu sahur dan berbuka.

Sahur itu kan masa-masa yang cukup berat. Harus bangun pagi buta, terus makan di saat kita mengantuk. Kalau menunya tak menggiurkan atau membosankan, tentu akan lebih berat lagi buat bangun dari tidur.

Siapa pun yang berkuasa menentukan menu di keluarga iklan mi instan, pasti tak bisa dibantah. Sudah! Mi instan saja! Atau jangan-jangan, iklan mi instan itu bukanlah semata-mata ingin menjual lebih banyak mi instan, melainkan juga ingin mengajarkan kita supaya lebih mensyukuri hidup. Biarpun selama sebulan hanya makan mi instan di saat sahur dan berbuka, kita tetap harus tersenyum. Bersemangat makan di saat sahur, menyapa anggota keluarga lain dengan bahagia, dan tetap menghargai ibu yang tak ingin memberi variasi menu.

Ayo kita nyanyikan lagu D'Masiv: 'Syukuri apa yang adaaa. Hidup adalah aaanugeraaah'. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya