Membangun Kasih Sayang di 10 Hari Pertama Ramadan

MI/Syarief Oebaidillah
25/6/2015 00:00
Membangun Kasih Sayang di 10 Hari Pertama Ramadan
(MI/M Irfan)
IBADAH puasa di bulan suci Ramadan sarat dengan berbagai makna penting bagi umat Islam yang menjalankannya. Bahkan, makna puasa tersebut bisa terbagi dalam tiga fase selama sebulan lamanya. Fase pertama yakni fase 10 hari awal Ramadan atau dikenal sebagai tahapan rahmat dan rahman Allah SWT. Selanjutnya fase kedua, 10 hari yang merupakan hari-hari pertengahan Ramadan sebagai tahapan magfirah atau ampunan Allah SWT.

Adapun fase ketiga ialah 10 hari terakhir yakni Ramadan sebagai tahapan pembebasan umat Islam dari api neraka atau itqum minannar. Hal tersebut dipaparkan oleh ustaz yang berdinas di Mabes Polri, Kombes M Yahya Agil, saat memberikan tausiah Ramadan seusai salat zuhur di Masjid Baitut Tholibin, Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, kemarin.

Menurut Yahya, fase pertama Ramadan sebagai rahmat dan rahman Allah perlu diartikan bahwa umat Islam mesti membangun kasih sayang kepada sesama manusia dan makhluk Allah SWT. Membangun kasih sayang Allah tersebut harus dibangun sehingga kasih sayang terus memancar secara horizontal dan vertikal. Yahya mengutip sebuah hadis yang artinya, "Kasihi dan sayangilah orang yang ada di bumi dan kamu akan dikasihi dan disayangi pula oleh makhluk Allah di langit."

Dalam konteks puasa, kasih sayang itu dapat diimplementasikan dengan mencontoh Rasululullah SAW yang diibaratkan sangat dermawan pada bulan suci Ramadan. Bahkan kedermawanan Rasul bisa diibaratkan seperti angin. "Karena itu, mari semampu kita berbuat kasih sayang dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW, di antaranya memperbanyak sedekah, berbagi kepada sesama khususnya mereka yang kekurangan, serta memberikan makanan berbuka bagi mereka yang berpuasa," ungkap jebolan jurusan dakwah Fakultas Ushuludin UIN Syarief Hidayatullah Jakarta tersebut.

Kemudian dalam memasuki 10 hari tahap kedua Ramadan, Yahya mengatakan umat Islam mesti memanfaatkan sebaik-baiknya untuk meraih kasih sayang Allah SWT dengan memperbanyak mohon ampunan kepada-Nya. Ia mengingatkan agar umat Islam memperbanyak zikir dan doa, 'Allahumma inaka afuwun tuhibbul afwa fafuanni', yang artinya 'Wahai Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf maka maafkanlah kami'.

Selain memperbanyak istigfar, Yahya menganjurkan, sesama muslim untuk meminta maaf jika ada perbuatan kesalahan sebagai insan manusia yang lemah. "Meminta maaf itu kepada orangtua, keluarga, sahabat, dan juga handai tolan maupun sesama rekan sekerja," ujarnya. Dengan kata lain, bulan suci Ramadan bisa diartikan oleh umat manusia beriman untuk momentum pembersihan diri.

"Ramadan artinya pembakaran, yakni manusia dengan proses tersebut dibersihkan dari kotoran-kotoran kesalahan serta kekhilafannya sebagai hamba Allah yang lemah, sehingga sangat tepat Ramadan ini untuk pembersihan diri," ungkap Sekretaris Pusat Sejarah Mabes Polri tersebut.

Kontemplasi
Selanjutnya, jelas Yahya, 10 hari tahap ketiga atau terakhir perlu dimanfaatkan umat Islam sebagai momentum untuk kegiatan iktikaf yang berarti kontemplasi atau perenungan sekaligus penyempurnaan puasa. "Inilah yang biasa disebut juga dengan tahapan itqum minannar atau pembebasan manusia dari api neraka, yang antara lain dapat ditempuh dengan kegiatan iktikaf dan sejenisnya," ungkapnya.

Terakhir, sebagai pamong kepolisian dan abdi negara, dia berharap umat Islam Indonesia selama Ramadan dan pasca-Ramadan dapat menjaga suasana puasa dengan khusyuk dan menjaga kebersamaan. "Marilah sesama umat Islam membangun suasana menghormati dan menghargai satu sama lain dengan baik," pungkas Yahya yang sering berkeliling untuk berdakwah ke pelosok Tanah Air.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya