TEPAT dua tahun, Ratna Puspita, 31, menjalani perkuliahan. Jurnalis di sebuah media daring itu baru saja melewati sidang tesisnya. Gelar master komunikasi bisa segera disandangnya setelah ia menyelesaikan tahap perbaikan. "Saya dulu kuliah komunikasi. Kerja juga di bidang komunikasi massa. Supaya linear, saya ambil kuliah lagi di bidang komunikasi," ungkapnya kepada Media Indonesia di Jakarta, Selasa (23/6) lalu.
Tak hanya itu, ada alasan lain yang mendorongnya untuk mengambil jurusan serupa. Pengalaman menyenangkan semasa kuliah S-1 menjadi bahan pertimbangan. Ia sadar perkuliahan yang dihadapinya kemudian akan selalu menemui tantangan. Karena itulah, ia mempelajari sejumlah kampus yang memiliki jurusan serupa. "Lumayan banyak kampus yang saya riset. Beberapa perguruan tinggi di luar negeri. Kebanyakan di Inggris. Kalau di dalam negeri hanya UI dan UGM," jelasnya.
Ia mencoba memahami kelebihan dan kekurangan kampus lewat mata kuliah yang akan diajarkan. Awalnya ia menginginkan jurusan dengan kajian yang lebih spesifik. Belakangan, ia mengubah keputusan setelah memasukkan biaya kuliah ke dalam perhitungan. Ia tidak ingin memilih jurusan yang tidak bisa ditanggungnya. Beruntung ia berhasil memperoleh beasiswa.
"Pada akhirnya sih dapat beasiswa. Cuma pas menentukan itu kan tetap harus dipikirkan kalau misalnya beasiswanya enggak dapat dan harus bayar sendiri atau klausul beasiswanya enggak penuh," cetusnya. Setelah menjalani perkuliahan, ia menyadari bahwa tidak semua yang dibayangkan sesuai dengan kenyataan. Misalnya, terkait dengan jumlah siswa dalam kelas.
Ia sempat menjalani perkuliahan dengan total mahasiswa sebanyak 50 orang dalam satu kelas. Menurut Ratna, jumlah tersebut menyebabkan diskusi berjalan kurang efektif. Materi yang disampaikan akhirnya kurang mendalam. "Mungkin karena saya menekankan pada sisi fun dan enjoy ya, meski ada juga beberapa kelas yang memang fun. Itu juga karena dosennya," sahutnya sambil tertawa.
Walau begitu, perempuan berkerudung itu menyatakan tidak menyesal dengan jurusan yang ia pilih. Ada banyak hal yang sangat dinikmatinya dan dipelajarinya selama perkuliahan. Ia juga mengakui ilmu yang dipelajarinya bisa menyegarkan wawasannya soal industri komunikasi massa terkini. "Selama ini kan menjadi pelaku. Ketika kuliah, saya berusaha melihat pakai jarak. Jadi, lebih kaya wawasannya," tukasnya.
Mendukung karier Memilih jurusan jenjang master berbeda dengan memilih jurusan jenjang sarjana. Dikutip dari laman www.umuc.edu, terdapat dua skenario besar yang biasanya dihadapi para calon mahasiswa pascasarjana. Skenario pertama ialah mereka yang sudah lebih dulu terjun ke dunia kerja. Kalangan itu biasanya didominasi mereka yang berupaya meningkatkan karier mereka lewat gelar master.
Karena itu, saat memutuskan pilihan jurusan, Anda harus benar-benar stabil dalam arah karier ke depan. Anda juga harus memilih jurusan yang dapat melengkapi ilmu saat kuliah sarjana dulu dan pengalaman kerja Anda. Kalaupun Anda merasa ragu dengan karier yang dijalani sekarang, Anda dapat berdiskusi dengan penasihat karier untuk mencari solusinya.
Kalaupun tidak ada konselor yang bisa ditanyai, ada beberapa pertanyaan yang bisa menjadi panduan. Dikutip dari laman forbes.com, pertanyaan itu meliputi apakah program itu bisa mendukung karier Anda, seperti apa kesempatan kerja yang tersedia nanti, dan apakah biaya kuliah yang Anda bayarkan bisa meningkatkan pendapatan di masa depan.
Bila jawabannya iya hanya pada pertanyaan terakhir, jurusan yang Anda pertimbangkan belum tentu tepat untuk dipilih. Camkanlah, jika Anda menentukan pilihan hanya berdasar ekspektasi gaji, itu akan mendatangkan kekecewaan. "Dua keuntungan absolut dari pendidikan pascasarjana adalah meningkatkan pengetahuan dalam bidang tersebut dan kemampuan untuk mengatur diri sendiri lebih dari mereka yang hanya memiliki gelar sarjana," terang ekonom dari Payscale Katie Bardaro.
Skenario kedua ialah mereka yang baru lulus sarjana. Tanpa pengalaman kerja Anda tetap harus berhati-hati dalam menentukan jurusan yang dipilih. Pertimbangannya tentu dengan memerhatikan kondisi terkini dan hal yang paling Anda perlukan untuk melengkapi ilmu dan jenjang karier ke depan. Dalam beberapa kasus, perusahaan yang Anda bidik lebih mementingkan
pengalaman ketimbang gelar yang Anda miliki. Utamanya pada bidang kerja yang berkaitan dengan teknik. Jika bidang itu yang akan ditekuni nanti, Anda direkomendasikan untuk terjun ke pekerjaan secara profesional segera setelah lulus daripada buru-buru melanjutkan kuliah. Sebaliknya, profesi seperti dokter atau psikolog banyak menuntut ilmu yang lebih canggih untuk menguasai masalah. Untuk itu, Anda disarankan untuk segera mendaftar program pascasarjana setelah menyelesaikan jenjang sarjana.