Batu

Soleh Solihun
25/6/2015 00:00
Batu
(MI/ATET DWI PRAMADIA)
"INI ada gurun pasirnya, ada tentara Abraham. Dan ini burung Ababilnya. Ini perlambang batu yang dibawa burung Ababil ketika menghancurkan tentara Abraham. Batu-batunya seperti ini, yang ada lafaz Allah. Lihat dari belakang, Allah."

Penuturan itu bukan bagian dari ceramah atau kultum alias kuliah tujuh menit jelang berbuka puasa.

Cerita itu saya kutip dari tayangan televisi tentang batu akik.

Ya, batu akik. Rangkuman cerita sejarah itu tertoreh di sebutir batu, bukan sebuah buku.

Sebenarnya, saya sama sekali tidak paham dengan batu akik, atau batu setengah mulia, atau batu mulia sekali pun.

Tertarik juga tidak. Tapi urusan batu ini memang seperti wabah.

Di mana-mana, saya ketemu dengan batu-batu dan cerita-cerita ajaibnya.

Ada batu dengan motif yang antah-berantah, tapi si kolektornya bisa sedemikian rupa menerjemahkan garis-garis abstrak di batu itu jadi seperti cerita itu.

Batu yang lain dibilang punya gambar mirip tokoh wayang, tokoh mitos Ratu Kidul, sampai Einsten.

Ada juga batu dengan motif orang sedang salat dan batu bertulis lafaz Allah.

Itu jelas bukan main-main lagi.

Butuh imajinasi luar biasa.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan negeri kita sudah lama memiliki teknologi kelas tinggi.

Kalau negara lain berlomba mengembangkan cip digital penyimpan memori berkapasitas sebesar mungkin, negeri kita cukup menyimpan memori itu dalam sebutir batu.

Ada yang bilang gila batu itu manifestasi dari krisis ekonomi, sama seperti booming anthurium dan ikan koi beberapa waktu lalu.

Ini jelas analisis yang butuh imajinasi tinggi.

Segala pembahasan dibikin jadi logis untuk menghubungkan batu dengan krisis ekonomi.

Ada juga yang bilang, dalam situasi krisis ekonomi, dibutuhkan katarsis buat rakyat supaya tak terjadi situasi gawat darurat.

Dan batu merupakan komoditas yang begitu abstrak sehingga bisa memberi mimpi buat siapa saja, seperti mimpi menemukan batu berharga miliaran rupiah.

Juga mimpi tak ada krisis ekonomi.

Lepas dari itu, setidaknya batu membuat banyak orang punya kesibukan dan hiburan.

Membuat banyak orang lupa dengan persoalan hidup yang makin berat.

Lagi pula, kalau sibuk memoles batu, orang jadi tak sempat berbuat nakal.

Meski tetap ada yang jadi penipu dan tertipu, semoga hanya minoritas.

Eh, kalau banyak pejabat juga jadi penggila batu, bagaimana?

Itu mah bagian dari tugas mereka, mempromosikan potensi daerah dan industri kreatif.

Entah kenapa saya jadi ingat Ponari, bocah yang dibilang punya batu berkhasiat.

Apakah negeri ini butuh batu Ponari juga ya?

Astaghfirullahaladzim.

Itu mah bisa musyrik. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya