Akses Pelayanan Darah Ditingkatkan

Puput Mutiara
02/6/2016 16:37
Akses Pelayanan Darah Ditingkatkan
(ANTARA)

KETERSEDIAAN darah di sarana kesehatan sangat ditentukan partisipasi masyarakat melalui kegiatan donor darah. Namun demikian, untuk menjamin keamanan transfusi darah perlu ditunjang oleh fasilitas dan sarana prasarana yang memadai.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengatakan, bahwa pelayanan darah yang aman dapat menurunkan angka kematian ibu. Pasalnya, saat ini diketahui 30% penyebab kematian ibu di Indonesia akibat pendarahan.

"Untuk itu Puskesmas, Unit Transfusi Darah (UTD), dan rumah sakit (RS) juga harus bekerja sama menjamin ketersediaan darah. Utamanya bagi ibu hamil, bersalin, dan nifas," ujarnya saat membuka acara Peringatan Hari Donor Darah Sedunia di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (2/6).

Hingga 2019, pemerintah menargetkan jumlah Puskesmas yang telah bekerja sama melalui Dinas Kesehatan dengan UTD dan RS mencapai 5.600 Puskesmas. Sementara target tahun 2016 yakni sebanyak 1.600 Puskesmas.

"Saat ini sebanyak 1.029 Puskesmas melalui 36 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota telah menandatangani nota kesepahaman dengan UTD dan RS," ungkap Menkes.

Ia menjelaskan, perluasan akses pelayanan darah bukan hanya untuk menjamin tersedianya darah bagi ibu hamil, melahirkan, dan nifas. Lebih dari itu, meningkatkan peran serta masyarakat menjadi pendonor darah sukarela.

Berdasarkan standar Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), jumlah kebutuhan minimal darah di Indonsia sekitar 5,1 juta kantong pertahun. Sedangkan, produksi darah dan komponennya saat ini baru 4,6 juta kantong dari 3,05 juta donasi dengan 86,2% diantaranya berasal dari donor darah sukarela.

"Jadi kita masih kekurangan 500 ribu kantong darah. Apalagi menjelang ramadan, kita sama-sama tidak berharap kecelakaan meningkat waktu pulang kampung nanti," tandasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya