Menkes Sebut Jumlah Lansia di Indonesia Melonjak pada 2020

Dede Susianti
01/6/2016 19:18
Menkes Sebut Jumlah Lansia di Indonesia Melonjak pada 2020
(Dok. MI)

KABUPATEN Bogor jadi pilot project untuk mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kesehatan Lanjut Usia (Lansia). RAN Kesehatan Lansia 2016-2019 ini merupakan program nasional yang baru saja diluncurkan Menteri Nesehatan Nila Farid Moeloek.

Peluncuran dilakukan di Gedung Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, Rabu (1/6). Acara peluncuran dihadiri lebih dari 1.500 peserta yang terdiri atas stakeholder dari lintas program dan lintas sektor, jajaran Pemkab Bogor, masyarakat, dan perwakilan lansia.

Kegiatan tersebut juga merupakan rangkaian dari acara Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang jatuh pada 29 Mei, sejak 1996. "Peringatan HLUN ini dapat digunakan sebagai momen untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap lansia," kata Menkes.

Salah satu upaya untuk memberdayakan lansia, lanjut dia, ialah melalui pembentukan dan pembinaan yang disebut dengan Posyandu Lansia atau Posbindu Lansia. "Upaya untuk meningkatkan kesehatan dilakukan melalui kesehatan ang lebih mengutamakan upaya peningkatan pencegahan dan pemeliharaan kesehatan di samping upaya penyembuhan dan pemulihan," ujar Nila.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, penyakit terbanyak diidap lansia ialah hipertensi (57,6%), artritis (51,9%), dan stroke (46,1%). Selain itu, pada dasarnya, tambah Menkes, para lansia menderita satu penyakit, sisanya sekitar 28% dengan dua penyakit, 14,6 % dengan tiga penyakit, 6,2% dengan empat penyakit, 2,3% dengan lima penyakit, dan 0,8% dengan enam pennyakit atau lebih.

Sedangkan, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2014, angka penderita sakit penduduk lansia sebesar 25,05%. Artinya, dari setiap 100 orang lansia terdapat 25 orang di antaranya mengalami sakit.

"Usia di atas 60 tahun sudah dengan satu penyakit. Minimal giginya sudah sakit. Ini yang harus kita cegah sejak usia dini. Ini yang akan saya tekankan betul pada rencana aksi nasional. Tidak dimulai dari usia lanjut, tapi dari usia sedini mungkin, karena kita harapkan orang tua ini begitu energik," ungkap Nila.

Dia mengatakan, untuk hal ini harus dimulai dengan membuat keluarga yang baik, dimulai dengan remaja. Karena menurutnya, saat ini Indonesia bukan saja bersaing dengan dunia. Bukan lagi antarnegara, tetapi antarmanusia.

"Masing-masing bersaing antarperorangan. Kita akan bisa sukses atau berhasil jika kita memang bisa melahirkan aset generasi muda, aset bangsa, dan bukan beban negara," katanya.

Oleh karena itu, usia produktif bertanggung jawab pada manusia lansia. "Ini tugas ke depan. Untuk yang lansia, kita dari mulai melahirkan di 1.000 hari kehidupan, kita betul-betul memberikan mereka generasi yang berkualitas. Tentu harapan kita menjadikan lansia yang juga berkualitas. Lansia yang juga tidak memberikan beban kepada bangsa."

Terkait itu, Nila mengatakan, kepada para pemimpin daerah, terutama di Kabupaten Bogor yang jumlah penduduknya sebanyak 5,3 juta jiwa, untuk membuat rumah jompo. "Kepada ibu bupati, rumah jompo perlu. Anak sibuk, cucu sudah mulai besar. Kita sukar untuk bercakap-cakap lagi, frekuensinya sudah tidak sama," kata Nila yang menceritakan pengalaman pribadinya dengan ibunya yang sudah lanjut usia.

Dalam rangka mendorong percepatan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan lansia di fasilitas kesehatan, Kemenkes telah menerbitkan Permenkes Nomor 79 Tahun 2014 tentang Pelayanan Geriatri di rumah sakit dan Permenkes Nomor 67 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Lansia di pusat kesehatan masyarakat.

Hingga saat ini, di Indonesia sudah ada 824 puskesmas lansia atau baru 10%.

Lebih jauh, Menkes mengatakan saat ini jumlah lansia di Indonesia sebanyak 20,8 juta jiwa. "Kalau dibandingkan dengan negara di Eropa, saat ini kita memang masih kecil atau secara piramidanya masih mengerucut, sedangkan di Eropa sudah piramida terbalik. Namun di kita juga suatu saat bisa terjadi demikian (seperti di Eropa)," katanya.

Sementara berdasarkan survei yang dilakukan, jumlah penduduk lansia terus akan meningkat. Hal itu sebagai dampak keberhasilan pembangunan kesehatan, yaitu terjadinya penurunan angka kelahiran, angka kesakitan, dan angka kematian serta peningkatan usia harapan hidup penduduk Indonesia.

Berdasarkan data BPS, Umur Harapan Hidup (UHH) di Indonesia meningkat dari 68,6 tahun pada 2004 menjadi 69,8 tahun pada 2010 dan pada 2015 UHH diperkirakan meningkat menjadi 70,8 tahun. UHH penduduk Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat. Sehingga persentase penduduk lansia terhadap total penduduk diproyeksikan terus meningkat.

Sementara itu, hasil Sensus Penduduk 2010 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lansia terbanyak di dunia yakni, mencapai 18,1 juta jiwa pada 2010 atau 7,6% dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk lansia (60+) diperkirakan akan meningkat menjadi 29,1 juta pada 2020, dan 36 juta pada 2025 (proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya