SEBANYAK sembilan ribu tayangan televisi di Indonesia tidak semua mengandung nilai informatif, norma, dan edukatif. Bahkan, ada beberapa yang menayangkan hal-hal negatif, seperti tayangan yang mengandung seks dan kekerasan.
Untuk alasan itulah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta agar lembaga-lembaga penyiaran segera mengevaluasi program-program yang dianggap tidak memenuhi kualitas program siaran televisi.
Keterangan itu disampaikan Ketua KPI Pusat Judhariksawan saat memaparkan hasil survei indeks kualitas program siaran televisi Maret dan April 2015, kemarin.
Berdasarkan hasil survei yang bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dan sembilan perguruan tinggi negeri di sembilan kota besar Indonesia tersebut, variety show, sinetron, dan infotainment merupakan program televisi yang paling tidak berkualitas.
Sementara itu, program religi dan budaya serta wisata menempati dua posisi teratas dengan indeks kualitas terbaik.
"Indeks dinilai dengan indikator yang beragam, seperti nilai informatif, norma, edukatif, hingga ada tidaknya muatan negatif seperti seksual dan kekerasan, sesuai dengan tujuan UU Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002," ujar Judha.
Sementara itu, Yuliandri Darwis, Ketua Umum ISKI mengatakan bahwa saat ini rata-rata program televisi di Indonesia masih berkualitas rendah.
"Masyarakat butuh sarana edukasi, media massa adalah salah satu yang paling berperan besar," ujar Yuliandri.
KPI tidak akan membiarkan masyarakat disuguhi dengan tayangan-tayangan yang tidak berkualitas dan tidak bermanfaat. Setiap lembaga penyiaran harus menayangkan program yang bernilai selaras dengan tujuan undang-undang penyiaran.
Apabila tidak dihiraukan, lembaga-lembaga penyiaran nantinya akan diberi sanksi sesuai dengan undang-undang tersebut. "Ini bukan menjustifikasikan program atau televisi tertentu, tetapi untuk perbaikan bersama," tegas Judha.