KATA guru agama, orang Islam yang menyambut dengan bahagia datangnya bulan Ramadan haram terkena api neraka. Sebagai seseorang yang tidak ingin masuk neraka, tentu saja setiap teringat hal tersebut saya selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya bahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadan?
Terus terang saja, saya termasuk yang biasa saja dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Karena itu, saya malah jadi sering takut sendiri. Kalau saya biasa saja dalam menyambut datangnya Ramadan, apa jadinya nanti jika api neraka itu untuk saya? Berarti, ada kemungkinan api neraka boleh membakar tubuh saya kelak.
Namun demikian, setiap Ramadan, saya selalu berusaha meyakinkan diri untuk selalu bahagia menyambutnya. Bahagia menyambut Ramadan itu salah satunya dipicu lantaran semua ibadah di bulan ini akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Namun, kalau hanya berharap pahala doang, berarti kita tidak ikhlas dong ya. Karena itu, daripada saya bingung memikirkan ikhlas dan tidak ikhlas, saya mengalihkan penyebab bahagia bukan dari sisi pahala, melainkan dari hal-hal yang sifatnya duniawi.
Ada beberapa hal yang membuat bulan Ramadan menyenangkan atau membuat saya bahagia.
Pertama, saya tidak perlu repot memikirkan makan siang yang sering kali membuat bingung. Di bulan biasa, ketika perut lapar pada siang hari, tentu kita harus segera makan biar tidak sakit mag atau pusing. Namun, ketika puasa, kita tak boleh makan siang. Itu artinya tidak perlu repot lagi mencari tempat untuk makan siang atau memikirkan menu makan siang. Berarti, tak ada kewajiban makan bagi kita ketika siang hari perut terasa lapar. Itu bisa menghemat pengeluaran. Berkurang satu masalah dunia.
Kedua, menu makan pagi yang variatif. Waktu saya masih tinggal sama orangtua, menu sarapan cenderung ala kadarnya, tetapi berbeda ketika tiba sahur. Selama sebulan, setiap hari, amat mungkin ada banyak menu makan pagi yang variatif atau beragam dan porsi yang cukup banyak.
Ketiga, banyak acara kumpul-kumpul. Di mana-mana sering ada pertemuan dan di situ pun ada makan-makan. Apalagi, pertemuan saat buka puasa. Karena acara yang minimal dilakukan setahun sekali, orang yang jarang bertemu selalu menyempatkan diri dalam acara buka puasa bersama.
Keempat, tentunya ada diskon di pusat-pusat perbelanjaan. Walaupun sebenarnya artinya sama saja. Menghemat uang makan siang, tapi malah boros di uang jajan pakaian. Gagal berhemat dong. Tak jadi untung. Kalau kata orang Sunda mah, plus plos.