Lompatan Detik kala Rotasi Bumi Melambat

MI/(Richaldo Y Hariandja/X-6)
23/6/2015 00:00
Lompatan Detik kala Rotasi Bumi Melambat
(MI/Immanuel Antonius)
ADA hal yang berbeda pada 30 Juni 2015 mendatang. Sehari semalam takkan 24 jam lagi, tapi 24 jam 1 detik. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengakui bahwa pada 30 Juni nanti akan ada penambahan 1 detik pada sistem waktu. Dengan demikian, khusus pada hari itu, dalam satu hari ada 86.401 detik, 1 detik lebih lama daripada biasanya.

Fenomena tersebut, lanjutnya, bukanlah fenomena yang baru, karena penambahan 1 detik atau lompatan detik (second leap) tersebut biasa dilakukan dalam kurun 2-3 tahun sekali untuk menyesuaikan rotasi bumi dengan rotasi atom. “Hal tersebut dilakukan karena rotasi bumi mulai melambat, sedangkan rotasi atom tetap konstan,” ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Dengan demikian, pada 30 Juni nanti, setelah pukul 23.59.59, tidak lantas berubah menjadi 00.00.00 dan masuk ke tanggal 1 Juli, tapi menjadi 23.59.60. Setelah itu, barulah masuk ke tanggal 1 Juli pukul 00.00.00. Penentuan tersebut, menurutnya, berdasarkan rujukan dari para peneliti di Pusat Rujukan Sistem dan Layanan Rotasi Bumi di Paris, Prancis.

Untuk penambahannya selalu dilakukan di tanggal yang sama, 30 Juni. "Jadi ketika para peneliti melihat mulai ada ketidaksinkronan antara rotasi bumi dan rotasi atom mendekati 0,9 detik, penyesuaian tersebut diperlukan," tambahnya. Menurut dia, selain untuk sinkronisasi, lompatan detik diperlukan demi menunjang keperluan seperti astronomi dan geodesi yang memerlukan rotasi atom sebagai waktu yang konsisten untuk pengukurannya.

Meskipun demikian, lanjutnya, tidak ada pengaruh signifi kan yang dirasakan oleh masyarakat Bumi. Begitu pula isu kiamat internet, menurut dia, sama sekali tidak benar, sebab ia berkeyakinan bahwa sistem komputer tidak akan terkena pengaruh lompatan detik. "Kecuali untuk yang memiliki akurasi tinggi, tapi sekarang pasti sudah dibekali teknologi penyesuaian, jadi tidak terlalu berpengaruh juga," ucapnya.

Rotasi Bumi sendiri, yang menggunakan matahari sebagai pusat mengukur waktu, diungkapkan Thomas, selalu mengalami perlambatan hingga 25 detik dalam 40 tahun. "Tidak bisa kita serta-merta mengonversi pengukuran waktu kita menggunakan rotasi atom, karena pengukuran dengan matahari ini sudah menjadi budaya manusia sejak 5.000 tahun lalu,” pungkasnya.

Pakar IT sekaligus Researcher & Chief Operations Mark Plus Farid Subkhan menyatakan konteks lompatan detik tidak akan berpengaruh besar terhadap sistem internet maupun komputer. Menurutnya, hal itu sudah diantisipasi oleh perusahaan-perusahaan besar. "Bisnis pun tidak akan merugi,” ujar Farid. Dia menerangkan bahwa di Eropa penambahan waktu hingga 1 jam bahkan pernah dijalani ketika transisi musim dingin ke musim panas.

Oleh karena itu, lompatan detik yang penerapannya akan diberlakukan di seluruh dunia tentunya bukanlah hal yang menakutkan. Perbedaan waktu yang terjadi hanya dari segi pencatatan. “Tetapi kalau dari segi aktualitas tidak akan berpengaruh," jelasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya