TANPA terasa, sudah hampir genap lima tahun konflik bersenjata memporak-porandakan Suriah. Di tengah ketakutan teror dan kemiskinan yang semakin parah tersebut, warga ibu kota Suriah, Damaskus, terus terang mengaku suasana Ramadan saat ini tidak lagi semeriah di tahun-tahun sebelumnya. Suasana yang sepi, ketakutan, dan kesulitan mencari bahan pangan itulah yang juga dialami sejumlah mahasiswa Indonesia yang masih bertahan di negeri yang dipimpin rezim Bashar al-Assad tersebut.
"Sebelum konflik, Ramadan di Damaskus adalah yang paling dinanti para mahasiswa asing seperti kami," ujar Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Suriah, Ahmad Fuadi Fauzi, pada acara buka puasa di lobi KBRI Damaskus, Kamis (18/6), di Damaskus, Suriah. Sebelum krisis, masjid-masjid di Damaskus biasanya menyediakan hidangan berbuka yang enak-enak secara gratis.
Itulah sebabnya, lanjut Ahmad, banyak mahasiswa asing setiap malam berkeliling masjid-masjid di Suriah untuk melakukan ibadah tarawih. "Pulang tarawih kadang dikasih uang. Warga Damaskus terkenal dermawan pada mahasiswa asing," kenang Ahmad. Namun, kini kondisi indah masa Ramadan itu sudah jarang ditemukan kembali. Kesulitan ekonomi, tebak Ahmad, mungkin menjadi faktor utamanya.
Bahkan, beberapa masjid yang biasa jadi langganan pelajar berburu makanan sudah dikuasai pemberontak, baik dari kelompok Free Syrian Army, IS, Jabhat al-Nushra, ataupun kelompok lain. Selain itu, faktor keamanan yang rawan tidak memungkinkan mahasiswa bepergian terlalu malam. Hal senada juga diucapkan Ahsin Mahrus, mahasiswa pascasarjana di Universitas Kuftaro.
Sama seperti koleganya, Ahsin juga memiliki sejumah kenangan manis di negara yang banyak memiliki peninggalan bangunan kuno tersebut. Sebelum pecah perang saudara, orang bebas bepergian hingga larut malam. Bahkan, Ahsin ingat betul, masih sering melihat anak-anak bermain sepak bola di malam hari. "Dulu mau ke mana pun, pergi jam berapa pun tidak ada yang bertanya-tanya. Sekarang kalau kita keluar malam, pasti ditanya-tanya tentara di setiap checkpoint," sebut Ahsin.
Teman Ahsin, Mukhlas Hamdi Rais, mahasiswa tingkat akhir di Universitas Kuftaro, mengatakan sekarang orang ngeri keluar malam. Musababnya, banyak tindak kejahatan terjadi di malam hari. "Sekarang banyak orang kepepet sehingga nekat melakukan tindak kejahatan," terang dia.
Pelajar tersisa Dalam rilis yang diterima kemarin, Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Damaskus, AM Sidqi, mengatakan saat ini masih terdapat sekitar 27 pelajar asal Indonesia yang masih bertahan di Suriah. Mereka, sambung Sidqi, berasal dari tingkatan SMA sampai pascasarjana. Sebelum krisis berlangsung, pelajar Indonesia di Suriah pernah mencapai sekitar 250 orang.
Namun, akibat krisis yang berkepanjangan, pemerintah RI melalui KBRI Damaskus melakukan repatriasi secara bertahap para WNI yang berada di Suriah, juga moratorium pengiriman tenaga kerja ke Suriah sejak September 2011. Kendati jumlahnya terus menyusut, guna menjalin keakraban dengan para WNI di Suriah, KBRI Damaskus menyelenggarakan acara buka puasa di lobi KBRI Damaskus dengan mengundang seluruh staf dan para mahasiswa yang masih tersisa. Acara yang juga dihadiri Dubes RI Damaskus Djoko Harjanto itu dimulai dengan berbuka, santap malam, ceramah agama, hingga ditutup dengan tarawih berjemaah.