Ramadan Mempererat Hubungan Keluarga

Syarief Oebaidillah
22/6/2015 00:00
Ramadan Mempererat Hubungan Keluarga
(AFP/ADEK BERRY)
RAMADAN menjadi wahana untuk mempererat hubungan keluarga, yakni antara orangtua dan anak-anak mereka.

Keluarga hendaknya memanfaatkan bulan suci untuk memperbaharui komitmen mereka dalam kebersamaan.

"Anak merupakan titipan-Nya dan Tuhan mengamanatkan kepada orangtua untuk mendidik anak menjadi generasi yang kuat. Maka Ramadan bisa menjadi wahana mempererat hubungan lebih baik dengan nilai ibadah yang tinggi di bulan suci ini," kata Wakil Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Quran, Jakarta, KH Ali Nurdin saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Ia mengutip Surah An-Nisa ayat 9 yang menyebutkan, "Dan, hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar."

Jebolan pascasarjana dan peraih doktor ilmu tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan surah itu mengingatkan para orangtua agar menyadari peran penting yang disandang mereka.

Mereka wajib membimbing anak-anak dengan baik agar menjadi generasi yang kuat.

"Nah, Ramadan menjadi momentum tepat untuk mendidik anak anak kita lebih intensif karena bulan suci ini memberi waktu kita untuk berinteraksi lebih banyak di tengah kesibukan kita. Formatnya, para orangtua dapat mendesain waktu luang dalam aktivitas keluarga, pesantren kilat, dan sebagainya," ujarnya.

Ia mencontohkan, saat makan sahur, orangtua dapat melakukan interaksi dengan anak mereka secara positif dengan penuh keakraban sembari menjelaskan makna Ramadan.

Bahkan, pada Ramadan, orangtua hendaknya memperbaharui komitmen mereka dalam berkomunikasi.

"Saat berbuka puasa dan makan sahur bersama, sebaiknya kita lepas semua barang gadget agar terjalin komunikasi yang positif. Pasalnya, kita sering lupa dan asik dengan gadget sehingga mengganggu komunikasi dalam kebersamaan itu."

Ia menilai banyak orangtua tanpa sadar lebih memerhatikan aspek materi untuk kebutuhan anak-anak mereka.

"Mereka merasa sudah cukup memberi kebutuhan materi, padahal anak juga memerlukan perhatian kasih sayang dan spritual."

Ia pun mengutip hadis Nabi yang menyebutkan anak merupakan investasi bagi orangtua saat mereka meninggal dunia.

"Ya anak yang saleh yang mendoakan orangtuanya itulah investasi masa depan para orangtua. Jadi, jika kita mendidik anak yang baik dan selalu mendoakan orangtuanya, beruntunglah para orangtua yang telah meninggal dunia itu," pungkasnya.

Latihan
Menurut pemerhati anak, Nanang Djamaludin, selain melatih anak menahan lapar dan haus, Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai wahana menempa kemampuan anak menghadapi cobaan.

Selain itu, lanjutnya, pada Ramadan, anak-anak bisa menerapkan sikap-sikap terpuji sesuai dengan tuntutan ibadah puasa.

"Seperti anak harus berlatih berkata jujur, berbicara yang baik-baik, mengendalikan amarah, beribadah, bersedekah, dan sebagainya."

Berpuasa menjadi latihan menghadapi tantangan berupa hawa nafsu.

"Ketika tantangan berupa beragam hawa nafsu ini dapat dikendalikan dengan baik oleh anak, proses berikutnya berlangsung internalisasi nilai-nilai terpuji yang didapat lewat latihan berpuasa anak."

Ia mengutarakan, jika anak-anak mampu menjalani tantangan dengan baik saat menjalankan puasa, itu merupakan 'hadiah' terbaik dan terindah bagi orangtua dari anak-anak mereka.

"Hadiah yang saya maksud berupa pengalaman latihan spiritual yang penuh makna lewat berpuasa bersama keluarga." (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya