Membumikan Seni Bersama Maestro

Iwa/FU/M-6
21/6/2015 00:00
Membumikan Seni Bersama Maestro
Maestro seni tari Irawati Durban Ardjo mengajarkan tarian Sunda di halaman rumahnya di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat.(MI/ARYA MANGGALA)

DI bawah pohon kedondong rindang, penari kawakan Irawati Durban, 72, melepas sesaat tongkatnya. Ia sebenarnya disarankan dokter untuk tetap menggunakan tongkat demi membantu dan menopang kaki kirinya yang sering encok.

Namun, itu tidak berlaku saat ia berlatih menari atau tampil di panggung. Ira, demikian ia kerap disapa, terbilang penari yang gesit. Ira lincah memainkan jemari. Lenggokannya juga kerap mendebarkan penonton.

"Dokter sarankan untuk menggunakan tongkat agar bisa membantu kaki yang kadang-kadang sakit. Saya mah bandel. Selalu dilepas saat menari," canda Ira, di Sanggar Pusat Bina Tari yang berlokasi di rumahnya di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat, pertengahan pekan ini.

Sebagai penari, ia masuk daftar penari istana kepresidenan. Ia menari di era Presiden Soekarno dan kerap mendapatkan kesempatan tampil di berbagai negara, mulai Tiongkok, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Ira merupakan salah satu dari 10 seniman kawakan yang masuk program Belajar Bersama Maestro (BBM). Program itu dicetuskan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tujuannya ialah mendekatkan 100 siswa sekolah menengah atas kelas X dan XI untuk belajar bersama di rumah dan sanggar maestro terpilih. Selain Ira, BBM melibatkan sembilan seniman lain.

Mereka ialah Nasirun (seni lukis), Tan De Seng (gitar, kecapi, suling), Mang Udjo (angklung), Supadminingtyas (sinden), Didik Nini Towok (tari), I Nyoman Nuarta (patung), Gilang Ramadhan (musik), Purwa-caraka (komposer), dan Aditya Gumay (teater).

"Kaderisasi dan pengembangan karakter sangatlah penting untuk menjaga nilai-nilai dan budaya bangsa," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Djoko Pekik, seniman yang dulu tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat di zaman Orde Lama, memuji langkah tersebut.

"Karena sekarang kalau mau jadi seniman itu mahal, harus melalui perguruan tinggi. Iya kalau lulus jadi seniman, kalau tidak, bagaimana?" tanya dia.

Kaderisasi itulah, kata Djoko Pekik, yang harus segera dilakukan oleh pemerintah agar setiap orang yang ingin menjadi seniman tidak perlu mengeluarkan ongkos mahal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya