Riset Kebencanaan Ditingkatkan untuk Kurangi Risiko Bencana

23/5/2016 23:44
Riset Kebencanaan Ditingkatkan untuk Kurangi Risiko Bencana
(ANTARA)

IKATAN Ahli Bencana Indonesia (IABI) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-3 pada 23–24 Mei 2016 di Bandung, Jawa Barat.

PIT ke-3 yang berlangsung di Aula Barat, Aula Timur dan Campus Center Institut Teknologi Bandung itu memfokuskan pada pembahasan pengurangan risiko bencana (PRB) dengan berbagai perspektif pendekatan, seperti aglomerasi PRB, risk warning, atau risk communication.

Indikator dalam konteks pembahasan tersebut mengacu pada rumusan absolute risk (AR) dan emerging risk (ER), yang diharapkan sebagai rumusan bersama pada akhir PIT. AR dan ER merupakan elemen yang melekat pada definisi risiko sehingga elemen tersebut sangat berpengaruh pada pendekatan dan strategi PRB di Indonesia.

Seiring dengan konteks tersebut, IABI memiliki kompetensi dan peran, khususnya, di bidang keilmuan dalam melakukan riset bencana. Riset tersebut tidak hanya dalam pengembangan keilmuan teknis terkait bencana tetapi juga pendekatan strategis penanggulangan bencana dan arah kebijakan pembangunan nasional 2015–2019.

Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Utama BNPB Dody Ruswandi mengatakan bahwa pihaknya mendorong peneliti, praktisi, maupun masyarakat peduli bencana dalam melakukan riset.

Dody berpendapat bahwa riset dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia dan ini dapat juga dibagikan kepada komunitas internasional. Di samping itu, BNPB telah melakukan berbagai upaya, salah satunya riset dengan melibatkan berbagai pihak. Tantangan saat ini yaitu terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan dokumentasi hasil riset yang belum terkoordinasi dengan baik.

"Selain itu, para pelaku penelitian atau pakar yang merupakan potensi sumber daya pengetahuan Indonesia juga masih belum terwadahi dalam suatu koordinasi yang baik, sehingga informasi sebaran peneliti dengan keahliannya masih sulit terjangkau oleh peneliti lain dan para pelaku penanggulangan bencana, termasuk para pengambil kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia,” kata Dody.

"Perubahan iklim dan demografi ikut mempengaruhi kejadian bencana. Pada masa mendatang bencana tidak hanya sekadar bencana tetapi dapat memengerahui sektor lain. Untuk itu perlu kerja sama dengan sektor lain. IABI dapat mendorong penelitian bencana yang dapat berguna bagi negara-negara risiko bencananya tinggi," imbuhnya.

Sementara itu, Prof Kadarsyah, selaku Rektor ITB, mengingatkan peristiwa tsunami di Aceh pada 2004 yang menyebabkan kerusakan parah dan menjadi pusat perhatian masyarakat di dunia.

"Untuk pengurangan risiko bencana menjadi prioritas, seperti mitigasi, peningkatan kesiapsiagaan. Untuk pascabencana build back better, pengalaman saya saat berkunjung ke Aceh, pascabencana, seperti kapal yang terdampar di atas rumah, saya tidak bisa bayangkan kejadian yang begitu parah. Peran penanggulangan bencana untuk pembangunan berkelanjutan dapat mengentaskan kemiskinan, akibat dari bencana alam," katanya.

Ia menambahkan, ITB dalam institusi pendidikan telah menjembatani penelitian dan pengembangan dalam pengurangan risiko bencana, seperti industri inovasi dan infrastruktur agar dapat mewujudkan dampak yang baik dalam penanggulangan bencana.

"Seperti kita ketahui persoalan bencana bukan hanya urusan pemerintah, tetapi perlunya kerja sama dengan semua pihak terkait penanggulan bencana. Dalam perkembangannya, ITB telah banyak meneliti, memetakan wilayah bahaya bencana maupun kajian-kajian sains dalam penanggulangan bencana. Seperti kejadian banjir di wilayah Bandung selatan, karena banyak pembangunan rumah di aliran sungai. Penelitian-penelitian ITB telah menghasilkan alat penyaringan air, alat pengisap debu, alat pendeteksi getaran tanah dan lainnya."

Menurut Kadarsyah, tantangan ke depan ialah bagaimana alat inovasi penanggulangan bencana dapat mudah diakses masyarakat, dan harganya murah. "Saya berharap pada pertemuan ini dapat meningkatkan kerja sama dengan pihak penanggulangan bencana dan dapat memberikan kajian, solusi dalam pengurangan risiko bencana." tuturnya.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan dirinya selalu melakukan inovasi dalam mengembangakan Kota Bandung lebih baik. Pembangunan Bandung tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi bernilai manfaat.

"Kami bereksperimen dalam pengembangan desa, yaitu penanggaran pembangunan desa secara merata. Dibutuhkan pemimpin yang bisa berinovasi dan menemukan solusi dalam permasalahan penanggulangan bencana dan tantangannya. Background ilmu saya seorang arsitek, jadi lebih ke pascabencana. Saya pernah mendesain museum pascabencana tsunami di Aceh. Kita harus belajar dari negara Jepang, yang penanganan bencana sudah cepat, dan baik seperti korban bencana cepat ditangani. Kita juga perlu mengedukasi masyarakat agar mau tolong menolong. Penanggulangan bencana tidak hanya dari segi teknologi bencana tetapi dapat melahirkan teori mitigasi bencana, nilai preventif, dan nilai sosial," kata Ridwan.

Melalui PIT ke-3, diharapkan tantangan di atas dapat terjawab dan forum ini dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi, khususnya dalam konteks PRB, yang bermanfaat dalam penanggulangan bencana di Indonesia.

IABI yang memiliki 12 kelompok kerja berdasarkan jenis bencana merupakan organisasi yang beranggotakan 350 ahli di bidang bencana yang berasal dari para akademisi, birokrat, lembaga riset, para praktisi dan masyarakat peduli bencana. (RO/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya