Menyingkap Jejak Walisongo di Wonogiri

MI
20/6/2015 00:00
Menyingkap Jejak Walisongo di Wonogiri
(MI/FERDINAND)
DI atas bukit di bawah naungan rimbun pohon jati, berdiri gagah masjid tua nan sederhana. Masjid Tiban Wonokerso, begitulah masyarakat Dukuh Tekil Kulan, Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, mengenalnya.

Bentuk bangunannya mirip sebuah rumah panggung dengan dinding dan lantai seluruhnya terbuat dari kayu jati. Bangunan masjid dengan luas 7 x 7 meter itu ditopang tiang berlandaskan batu putih berbentuk persegi panjang. Konstruksi itu ditopang empat sakaguru, atau tiang utama, dan 12 sakawara, atau tiang tambahan. Menurut cerita, sakaguru itu dibuat empat sunan sehingga bentuknya berbeda-beda.

Warto, warga setempat yang dipercaya mengurus masjid tersebut, mengatakan Masjid Tiban Wonokerso merupakan salah satu jejak yang ditinggalkan walisongo di Tanah Jawa. Usianya diyakini lebih tua daripada Masjid Agung Demak. Bahkan, masjid itu disebut-sebut merupakan maket atau prototipe dari Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak sendiri berdasarkan buku Babad Tanah Jawi dikukuhkan pada 1505 Masehi, sedangkan Masjid Wonokerso diperkirakan selesai dibangun pada 1501 Masehi, itu berarti usianya saat ini 514 tahun.

"Menurut cerita turun-temurun masjid itu dibangun Sunan Kalijaga dan para wali yang lain sebagai tempat beribadah dan beristirahat ketika sedang dalam perjalanan mencari kayu jati untuk membangun Masjid Demak," tutur Warto.

Setelah beberapa saat, masjid yang dibangun ditinggalkan begitu saja dalam balutan lebatnya hutan dan baru kemudian ditemukan Raden Mas Said, atau Pangeran Sambernyowo, ketika perang gerilya melawan pasukan Belanda. Rades Mas Said kemudian bertakhta di Kerajaan Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegoro I.

Kendati cukup tersembunyi, kata Warto, Masjid Tiban Wonokerso selalu ramai dikunjungi, terutama malam Jumat. Tamu yang datang tidak hanya dari Wonogiri dan sekitarnya serta Jawa Tengah, tapi juga dari Jawa Timur, bahkan Malaysia dan Singapura untuk penelitian atau mencari jejak sejarah syiar Islam walisongo.

"Tamu domestik lebih banyak untuk tujuan ibadah seperti salat dan doa bersama, terutama pada Ramadan ini," pungkas pria yang juga pegawai Dinas Pariwisata Wonogiri itu. (FR/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya