SEMUA orang yang percaya adanya surga dan neraka pasti ingin masuk surga. Meskipun suka ada yang berteriak 'See youin hell' di film-film, atau ada anekdot macam 'Mending masuk neraka, biar ketemu Kurt Cobain, Jimi Hendrix, dan kawan-kawan', saya yakin di lubuk hati paling dalam, tak ada yang ingin masuk neraka. Siapa sih yang ingin disiksa?
Surga digambarkan sebagai tempat indah, penuh dengan sungai mengalirkan susu, dan segala macam fasilitas baru Adam dan Hawa yang bisa merasakannya. Namun, ketika kecil, motivasi saya masuk surga bukanlah mau bertemu bidadari cantik, bukanlah mau terus awet muda, bukanlah mau berenang di sungai yang mengalir susu (pasti lengket ya), melainkan cuma satu, ingin makan buah jeruk tanpa biji.
Salah satu yang merepotkan buat saya ialah ketika makan jeruk dan harus mengeluarkan biji-bijinya. Mengganggu kenikmatan ketika memakannya. Sudah beres dimakan, eh tambah lagi persoalan: kulit dan bijinya bertebaran di mana-mana.
Saya membayangkan, di surga tidak akan ada persoalan biji jeruk yang berserakan. Tak perlu repot membuang sampahnya. Jeruk-jeruk yang segar dan manis akan bisa mudah dinikmati tanpa biji. Begitu juga semua buah lainnya. Mangga dan apel pun tak berbiji. Meskipun tanpa biji, mereka bisa tumbuh dengan subur, karena di tanah surga. Tongkat kayu dan batu dilempar pun jadi tanaman. Eh, itu mah lirik lagu Koes Plus ya.
Baru belakangan saya tahu, jeruk tanpa biji mudah ditemukan di toko buah yang menjual buah impor. Kalau saja diri saya yang masih kecil tahu sejak dulu, di dunia sudah ada jeruk tanpa biji, pasti akan bingung, apa lagi yang menarik buatnya di surga?
Sementara itu, diri saya yang sekarang, kadang bertanya, kalau semua kebutuhan sudah terpenuhi di surga, lalu apa artinya hidup? Mungkin itu sebabnya dulu Adam dan Hawa tergiur sama buah khuldi, karena semua bisa mereka dapatkan dan ada satu tantangan bernama buah khuldi yang tak boleh dimakan.
Bukankah yang membuat hidup terasa hidup karena adanya kebutuhan yang belum terpenuhi? Jangan-jangan, neraka lebih menarik. Lebih dinamis. Disiksa sampai meninggal. Lalu dihidupkan lagi. Eh, disiksa lagi sampai meninggal. Setelah merasa persoalan selesai karena sudah disiksa hingga meninggal, eh dihidupkan lagi untuk kemudian disiksa lagi. Begitu seterusnya. Siksaan tanpa henti. Astaghfirullahaladziim. Semoga tulisan saya soal neraka lebih dinamis tak malah buat koruptor makin semangat korupsi ya. (H-2)