Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN penampilan seperti hendak berolahraga, Tsuyoshi Ashida bergerak memunguti sampah-sampah di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Bermodal alat pencapit dan sebuah kantung sampah, ia memunguti satu per satu sampah kering di sekeliling jalan lingkar luar GBK selama lebih kurang 1,5 jam bersama belasan relawan lainnya.
Bagi Ashida, kegiatan ini telah menjadi seperti olahraga rutin. Tujuannya sederhana, yakni membuat para pembuang sampah sembarangan sadar bahwa tindakan mereka tersebut memalukan.
Ashida ialah seorang ekspatriat asal Jepang yang kini menetap di Jakarta. Berasal dari negara yang masyarakatnya begitu menghargai kebersihan lingkungan, Ashida terenyuh begitu melihat kebiasaan warga Jakarta yang kerap membuang sampah sembarangan.
“Membuang sampah sembarangan itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya hati,” ujar Ashida.
Ia dan ke-10 temannya yang juga berasal dari Jepang, kemudian memutuskan untuk melakukan aksi petik sampah di kawasan GBK. Setidaknya dua kali dalam satu bulan, mereka berkumpul di GBK pada Minggu pagi untuk melaksanakan kegiatan petik sampah.
"Saya bukan politikus atau pun miliarder yang bisa membuat sebuah kebijakan untuk melakukan perubahan. Saya terpikir melakukan hal sederhana yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain, tapi jika dibiarkan bisa berdampak buruk. Di Jepang, di kota yang sangat bersih saja tetap ada kelompok relawan pemetik sampah," ujarnya saat ditemui di Komplek GBK, Minggu (22/5).
Tak terasa, kegiatan ini telah berlangsung selama empat tahun. Berawal dari inisiatif mereka sebagai warga asing, ternyata mampu menarik perhatian sejumlah muda-mudi asal Indonesia yang akhirnya turut bergabung menjadi relawan.
"Saya senang ternyata aksi saya memetik sampah bisa menular kepada anak-anak muda. Bahkan saat ini, relawan yang orang Indonesia lebih banyak dari kami orang Jepang yang pertama menggagasnya," cetus Ashida.
Membuat Jakarta bebas sampah dalam sekejap merupakan hal yang mustahil. Hal tersebut disadari betul oleh Ashida. Oleh sebab itu, tujuan utama Ashida melalui aksinya ini ialah untuk menyampaikan kepada warga Jakarta bahwa membuang sampah sembarangan merupakan kegiatan yang memalukan.
Jika pesan tersebut tersampaikan, Jakarta yang lebih bersih pun bisa terwujud. Oleh karena itu, dalam setiap aksi Ashida selalu menyisipkan sebuah spanduk bertuliskan 'Malu Buang Sampah Sembarangan'.
"Rata-rata orang Indonesia paham bahwa kebersihan adalah hal yang penting dan membuang sampah sembarangan adalah hal yang memalukan, tapi sebagian besar hanya memahami secara konsep dan tidak dipraktikkan," kata Ashida.
Ashida dan rekan-rekannya sesama relawan yang kini tergabung dalam komunitas Jakarta Osoji Club. Osoji ialah kata dalam Bahasa Jepang yang memiliki arti ‘bersih-bersih’. Dalam satu kali aksi, setidaknya 20 hingga 30 relawan hadir di GBK untuk bersama-sama memunguti sampah. Setidaknya dua kali dalam satu bulan mereka berkumpul di GBK setiap Minggu pagi pukul 8.00 WIB.
Dengan lincah mereka memunguti satu per satu sampah. Tidak ada standar perlindungan khusus yang harus diikuti untuk memunguti sampah. Hanya bermodal sebuah capit dan trashbag. Beberapa menggunakan sarung tangan, ada pula yang tidak.
Yang jelas, usai memunguti sampah mereka wajib mencuci tangan. Tak pelak, ketika menemui sampah basah pun terkadang timbul rasa jijik.
"Kalau sampahnya terlalu menjijikkan nggak saya pungut, saya biarkan saja, saya foto dan saya posting di Facebook untuk menunjukkan kalau di luar sana masih ada loh orang yang tega membuang sampah seperti itu sembarangan," tandas Ashida.
Selama ini, lanjut Ashida, banyak yang menyebut ia dan rekan-rekannya di Osoji Club sebagai pecinta lingkungan. Ia tak menampik. Hanya saja, ia mengakui bahwa para relawan sesungguhnya bukan lah profesional maupun pakar lingkungan. Sebab, yang mereka lakukan merupakan hal sederhana yang sepatutnya dilakukan oleh semua orang. Usai aksi, sampah-sampah yang dipungut kemudian dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah. Sesederhana itu.
"Sempat terpikir untuk memilah-milah sampah, antara yang organik maupun nonorganik, tapi ternyata dari dinas kebersihan tidak melakukan manajemen sampah seperti itu. Ketika diangkut, oleh mereka sampah dicampur,” katanya.
Salah satu relawan, Dini Juwita, mengatakan dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh Osoji Club, tidak jarang orang-orang sekitar menganggap bahwa para relawan merupakan petugas kebersihan. Ada pula beberapa orang yang justru menitipkan sampah yang hendak mereka buang kepada para relawan.
"Kalau ada yang nitip nggak kita terima, karena kami bukan petugas kebersihan. Kami ingin menunjukkan cara yang benar bahwa sampah harus dibuang di tempat sampah. Tujuan kami bukan sekadar bersih-bersih, tapi juga edukasi,” cetus Dini. (Nic/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved