Jurus Jitu Hadang Dahaga

MI/DINNY MUTIAH
19/6/2015 00:00
Jurus Jitu Hadang Dahaga
(THINK STOCK)
"BUAT saya, puasa itu yang paling berat menahan rasa haus dibandingkan lapar. Apalagi, sekarang panas banget kalau siang," keluh Armadita, 30, kemarin.

Apalagi, perempuan yang akrab disapa Dita itu mengaku paling doyan minum. Ia paling tidak menghabiskan 2 liter air putih dalam sehari.

Kebutuhannya bertambah saat harus beraktivitas seharian di luar ruangan dalam cuaca panas.

"Otomatis keringat yang saya keluarkan berlebih. Di situlah kadang saya merasa haus," candanya sambil tertawa.

Menyadari kelemahannya, mahasiswi pascasarjana sebuah perguruan tinggi negeri itu mengatur siasat. Pertama, ia memaksimalkan waktu buka puasa hingga sahur berakhir untuk sering minum air putih walau ia kemudian harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Ia juga mengerem kebiasaannya minum teh manis, kopi, serta makan makanan manis. Menurut Dita, langkah itu efektif mengurangi rasa haus yang kerap melanda saat puasa.

Kiat menahan dahaga yang dijalankan Dita itu sejalan dengan saran yang disampaikan dokter spesialis gizi klinik dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sri Sukmaniah. Ia menyatakan, hidrasi atau kecukupan cairan tubuh sangat penting agar metabolisme tubuh berjalan lancar.

Kehilangan cairan 350 ml saja, tubuh akan lemas dan mengantuk. Tubuh akan lebih mudah lemas jika kita mengonsumsi minuman manis saat sahur. Kandungan gula sederhana dalam minuman manis itu bisa membuat kadar gula dalam darah naik lalu turun dalam waktu singkat.

Ia melanjutkan, kebutuhan cairan manusia bergantung pada beberapa faktor, seperti berat badan dan kondisi iklim. Namun, rekomendasi menyatakan rata-rata kebutuhan orang dewasa Indonesia sekitar 2 sampai 2,5 liter per hari.

"Kebutuhan cairan ini harus dipenuhi 100% dari mulai buka sampai sahur. Tentunya, kita tidak bisa mengonsumsi air sekaligus dalam satu waktu," jelas perempuan yang akrab disapa Ani itu dalam diskusi bertajuk Hidrasi dan Nutrisi Sehat saat Berpuasa, di Jakarta, pekan lalu.

Pola 2+4+2
Berdasarkan hal tersebut, Ani menyarankan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh dengan menerapkan pola 2+4+2. Pola itu membagi konsumsi air putih ke dalam beberapa waktu. Dua gelas air putih saat berbuka, empat gelas saat malam hingga menjelang tidur, serta dua gelas air di saat sahur. Konsumsi air putih di malam hari sengaja diperbanyak untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selama beraktivitas di siang hari sekaligus menyiapkan cadangan air untuk keesokan harinya.

"Lagi pula, pada saat bangun pagi untuk sahur, kita sulit minum banyak. Bahkan, ada yang merasa mual kalau kebanyakan minum. Nah, kalau sudah minum cukup sebelum tidur, kita sudah menabung 75% kebutuhan air untuk puasa hari itu dan 25% sisanya dicukupkan saat sahur."

Minum air putih tidak hanya melepas dahaga. Tujuh kandungan mineral dalam air putih sangat penting untuk kerja organ-organ tubuh. Silika, misalnya, diperlukan untuk menjaga kesehatan kulit dan tulang. Fluorida untuk mencegah karies gigi.

Kalsium dan magnesium penting untuk kerja jantung, pembuluh darah, dan tulang. Natrium diperlukan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Ada pula zink yang membantu kerja 300 jenis enzim.

"Tidak ketinggalan kalium. Mineral ini sangat penting dalam mekanisme transfer saraf. Kekurangan kalium juga bisa membuat kerja jantung berhenti," paparnya.

Jika pola itu diterapkan secara konsisten, keseimbangan hidrasi bisa terjaga dengan baik. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya