BULAN penuh keberkahan, Ramadan, telah tiba. Umat muslim di berbagai belahan dunia gencar memanfaatkan momentum itu untuk memupuk pahala, kesempatan untuk introspeksi, sekaligus memperdalam iman.
Saat Ramadan, umat muslim menjalankan ibadah puasa. Mereka tidak makan dan minum terhitung dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Perbedaan waktu dan di setiap belahan dunia acap menjadikan Ramadan unik. Umat muslim di Reykjavic, Islandia, kemarin, menjalankan ibadah puasa terpanjang, yaitu 22 jam. Dengan berpuasa selama 22 jam, mereka hanya memiliki waktu 2 jam untuk kembali mencukupkan asupan makanan dan minuman mereka, itupun masih harus menjalankan ibadah wajib lain seperti tarawih dan sahur. Selain Islandia, negara lain seperti Swedia, Finlandia, dan Norwegia juga mengalami hal serupa. Meski demikian, banyak ulama setempat yang mengizinkan umat muslim di sana untuk berbuka lebih cepat dengan merujuk waktu magrib di Arab Saudi atau Turki.
Sementara itu, umat muslim yang berada di Punta Arenas, Cile, akan menjalankan ibadah terpendek, yaitu hanya 9 jam, 43 menit. Di Indonesia, puasa dijalankan selama 13 jam.
Perbedaan itu menciptakan tantangan tersendiri. Persiapan puasa selama 22 jam tentu saja akan berbeda dengan puasa 9 jam. Umat Islam yang berpuasa lebih lama berupaya untuk menjaga stamina dengan cara ekstra, misalnya memilih makanan bergizi tinggi dan sehat dengan kuantitas yang lebih.
Seorang Editor Asosiasi Keagamaan Carol Kuruvilla, seperti dilansir Huffington Post, Kamis (18/6), mengatakan tidak sedikit yang merasa berat menjalankan ibadah puasa dari waktu fajar sampai terbenamnya matahari.
"Selepas sahur, seorang muslim tidak boleh lagi makan atau minum sampai matahari terbenam. Baru setelah magrib tiba, mereka diperkenankan berbuka dengan yang manis," ucap Kuruvilla.
Lebih dari itu, yang terberat ialah saat menjalankan puasa di satu wilayah yang memiliki perjalanan waktu lebih lama antara waktu sahur dan berbuka. Umumnya, di daerah beriklim dingin cenderung mengalami waktu siang lebih lama.
"Pada 18 Juni (kemarin), muslim di sana harus berpuasa selama 22 jam lebih. Itu artinya, mereka harus benar-benar menjaga kesehatan khususnya stamina selama puasa."
Meski begitu, lanjut Kuruvilla, muslim yang berpuasa dengan waktu lebih cepat pun harus tetap menjaga kesehatan sepanjang menjalankan ibadah puasa.
Pia Jardi, Pemimpin Persatuan Muslim Finlandia di Helsinki, seperti dikutip dari Ibtimes.co.uk, mengatakan Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas, sehingga waktu puasa terasa lebih panjang.
"Kalau seorang muslim harus berpuasa selama 21 jam saja misalnya, berarti dia hanya boleh makan atau minum selama 3 jam dalam sehari."
Perbedaan waktu itu disebabkan hukum alam, yakni miringnya sumbu rotasi bumi yang menimbulkan munculnya empat musim. Pada Juni 2015, di daerah Kutub Selatan, siang hari berjalan sangat cepat sehingga bisa berbuka lebih cepat jika dibandingkan dengan umat muslim di belahan dunia yang lain.
Perputaran Bumi mengelilingi matahari yang miring juga menjadi penyebab perbedaan waktu itu.
Contoh lainnya ialah matahari di daerah Kutub Utara bersinar hampir sepanjang 24 jam. Itulah yang menjadi penyebab muslim di sana menjalankan ibadah puasa lebih lama.
Perbedaan dialami juga oleh negara yang berada di utara atau selatan khatulistiwa. Di Australia misalnya, umat muslim yang berada di negara itu akan berpuasa hanya sekitar 11 jam. Sementara itu, umat muslim yang berada di Amerika Serikat yang notabene berada di utara khatulistiwa akan berpuasa selama 19 jam.
Menjalankan puasa di negeri matahari terbit juga tidak kalah lamanya karena dijalankan selama 16 jam.
Menu berbuka Berbahagialah jika Anda berbuka puasa di Indonesia. Umumnya makanan khas berbuka puasa seperti aneka bubur, kolak, beragam es buah segar, dan kudapan yang sulit ditemu di hari-hari biasa akan ramai dijual. Makanan-makanan itu menjadi primadona saat Ramadan tiba. Namun, sayangnya umat muslim di Jepang harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan makanan yang sesuai dengan keyakinan mereka. Mereka sering kesulitan untuk mendapatkan makanan yang halal karena kebanyakan restoran setempat menjual bahan makanan yang diharamkan, seperti daging babi.
Di Bangladesh, meski makanan favorit mereka ialah samosa, umat muslim setempat memilih untuk minum rooh afza. Minuman itu merupakan ramuan herbal yang dibuat dari ekstrak buah dan sayur.
Sementara itu, Kurma menjadi pilihan bagi umat muslim di Nigeria. Mereka memilih kurma karena rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut. Selain kurma, mereka juga akan sibuk berbelanja buah-buahan untuk disantap bersama dengan keluarga.
Di Libanon, terdapat batata harra, yang memiliki arti kentang pedas. Makan itu juga merupakan primadona penduduk setempat. Kentang itu disajikan dengan beragam rempah-rempah seperti bawang putih, paprika merah, ketumbar, dan cabai. Yang menjadikan batata harra spesial ialah kudapan itu digoreng dengan minyak zaitun.
Jika di banyak negara kudapan yang ringan dipilih untuk berbuka puasa, berbeda dengan umat muslim di Persia. Mereka langsung berbuka dengan nasi kuning lengkap dengan lauk yang dibentuk bola dari daging domba giling yang diberi nama fasenjan. Makanan itu juga merupakan makanan khas negara tersebut. (Eno/H-3)