SEJATINYA melalui ibadah bulan Ramadan, umat Islam mestinya bisa menangkap esensi puasa, yakni pengendalian diri dari nafsu, amarah, syahwat, hedonisme, dan syahwat kekuasaan, sebab hakikatnya, manusia bukan pada nafsu rendah, melainkan nafsu mutmainah, yaitu jiwa yang tenang.
"Nah, dengan puasa, menuju nafsu mutmainah itu kita harus menempa diri seoptimal mungkin mengadopsi sifat-sifat keilahian Ilahi," kata Rois Syuriah PBNU KH Masdar F Masudi, di Jakarta, kemarin.
Di antara sifat Allah itu ialah Assalam, yakni menebar keselamatan dan kedamaian. Hadis Nabi Muhammad SAW menyebutkan orang Islam itu yang dapat menjamin rasa aman pada pada segenap manusia dan makhluk lain.
"Jadi jika ada orang Islam yang membuat takut atas saudaranya yang muslim, layak diragukan keislaman mereka yang menyebar rasa takut itu. Orang Islam sebaliknya perlu membuat rasa tenteram meski berbeda kultur dan berbeda aliran, begitu juga pada agama lainnya," cetusnya.
Sifat Allah yang lain ialah Arrahman dan Arrahim, yaitu pengasih dan penyayang tanpa pandang bulu. Dengan sifat itu, manusia dapat meniru sifat Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada sesama, baik dengan bantuan materi maupun nonmateri kepada sesama makhluk lain yang membutuhkan.
Sifat Allah berikutnya ialah Al alim, yaitu Allah mahaberilmu dan mengetahui. Untuk itu, sebagai manusia harus menuntut dan memperdalam ilmu.
"Sifat Allah lainnya seperti Al-cholik yaitu mahamencipta maka kita sebagai manusia dapat berupaya menciptakan karya kreatif dalam kehidupan sehari-hari yang berguna dan memberi makna pada manusia secara positif," ujar Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia itu.
Namun, Masdar mengingatkan umat Islam mesti berhati-hati dalam mengadopsi sifat Allah, yakni sifat yang mahabesar atau akbar. Sifat tersebut bisa memicu kesombongan dan keangkuhan karena merasa diri lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang manusia lainnya.
"Dengan puasalah, kita menahan nafsu-nafsu seperti itu dan juga menghilangkan sifat suka mengumpat dan menghinakan semua orang sehingga kita kelak bisa kembali ke fitri atau kesucian," pungkas Masdar. Gaya hidup Pada kesempatan berbeda, Wasekjen PBNU M Sulton Fatoni menambahkan terkait dengan kebersamaan umat Islam Indonesia dalam mengawali puasa Ramadan, ia menganggap itu sebagai berkah. Itu akan diikuti 'panen doa' dari para malaikat yang mengikuti kebersamaan. Ritual tersebut, kata dia, berdampak positif bagi bangunan sosial masyarakat Indonesia.
Dalam hemat Sulton, masyarakat Indonesia baik muslim maupun nonmuslim telah menyadari pentingnya kebersamaan tersebut. Seperti tahun-tahun lalu, misalnya, buka puasa bersama (bukber) tidak hanya diinisiasi seorang muslim, tapi juga kalangan nonmuslim.
"Bukber kini sudah menjadi lifestyle dan masyarakat muslim pun enjoy melakukannya, tak merasa berat apalagi keberatan. Ini bukti kesadaran untuk hidup kolektif dimiliki setiap orang, muslim dan nonmuslim."
Namun, ia menegaskan momentum kebersamaan itu perlu dioptimalkan semua pihak untuk melakukan kerja-kerja positif yang berdampak luas. Caranya ialah meningkatkan kualitas kebersamaan pada level yang saling memahami dan menghormati.
"Ujungnya perwujudan kedamaian dan keharmonisan di semua bidang kehidupan," kata dia.
Terakhir, ia mengingatkan Ramadan sebagai bulan kedamaian secara lahir dan batin sebaiknya dimanfaatkan umat Islam untuk memperbanyak doa. Seperti anjuran Rasulullah, kita diminta banyak berdoa meminta ampun kepada Allah atas segala kesalahan dengan doa, 'allahumma innaka 'afuwun tuhibul 'afwa fa'fu 'anny', yang artinya, 'Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun maka ampunilah kami'.
Bahkan, Imam Syafii berpesan agar kita memperbanyak doa untuk kebaikan umat Islam sebagai bentuk kontribusi positif bagi masyarakat luas. (H-2)