Bulan Pendidikan dan Pengendalian Diri

Syarief Oebaidillah
18/6/2015 00:00
Bulan Pendidikan dan Pengendalian Diri
(ANTARA/AHMAD SUBAIDI)
MARHABAN ya Ramadan. Bulan yang selalu dinanti umat muslim di belahan dunia mana pun.

Hari ini sebagian besar penduduk Indonesia pun mulai melaksanakan ibadah puasa.

Bulan ini diyakini memiliki dua keutamaan bagi umat Islam, yakni sebagai bulan pendidikan dan pengendalian diri.

"Hikmah puasa merupakan bulan pendidikan bagi kita karena puasa mendidik manusia untuk senantiasa jujur dan mampu mentransformasikan kejujuran dalam kehidupan kebangsaan," kata Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Muti kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Abdul Muti menilai banyak ditemui tindakan yang merusak dalam kehidupan sehari-hari ataupun bernegara.

Dia mencontohkan tindakan yang merusak dalam kehidupan bernegara antara lain tindakan korupsi yang masih merajalela.

Korupsi, menurut dia, ialah kebohongan yang melembaga, masif, dan sistemis.

"Jadi dengan puasa, mendidik kita dalam arti luas. Dalam bulan ini kita dididik mengendalikan hawa nafsu dan perilaku dari perbuatan yang melanggar hukum dan aturan berbangsa, seperti perbuatan korupsi."

Hikmah berpuasa yang kedua, menurut Abdul Muti, pengendalian diri.

Maksudnya ialah mengontrol diri, seperti mengontrol nafsu agar tidak menjadi seorang yang konsumtif atau tidak boros.

"Hal ini penting karena puasa tahun ini dilaksanakan dalam situasi ekonomi yang sulit dan dengan inflasi sangat tinggi. Puasa mendidik kita untuk hidup hemat dan bersahaja," cetusnya.

Ia pun mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183, 'Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu bertakwa'.

Makna dari ayat itu, jelasnya, seorang yang berpuasa hendaknya tidak rakus dalam mengonsumsi ataupun membeli makanan, serta terhadap kepemilikan materi.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta itu berharap umat Islam memanfaatkan momentum Ramadan untuk membangun sinergi, kebersamaan, dan kerja sama di antara organisasi Islam.

"Kebersamaan dalam kehidupan sosial, keumatan, dan kebangsaan. Umat Islam perlu lebih mengintensifkan komunikasi dengan baik di antara para tokoh secara pribadi ataupun formal dalam berorganisasi. Umat Islam juga perlu mencurahkan energi untuk hal-hal yang produktif dan konstruktif."

Tazkiyatun nafs
Di sisi lain, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin berpesan umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa agar dengan tazkiyatun nafs.

Tazkiyatun nafs ialah penyucian jiwa dari dosa selama setahun.

Din juga mengimbau umat Islam agar melakukan penguatan diri agar dapat menjadi pribadi bertakwa.

Karena itu, tambahnya, dalam berpuasa mereka hendaknya tidak sekadar melakukannya sebagai rutinitas belaka, tetapi menjalankannya dengan penuh makna.

"Kami juga menghimbau kita tetap menjaga ukhuwah islamiah. Jangan mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum diklarifikasi. Kita lakukan tabayun terhadap berita-berita di media sosial atau medsos agar kita tidak terprovokasi," kata Din Syamsudin kepada pers seusai sidang isbat Ramadan di Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (16/6) malam. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya