KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menggandeng dunia pendidikan, termasuk akademisi, untuk mengatasi masalah lingkungan.
Lembaga yang digandeng ialah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Kementerian Agama (Kemenag), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan Badan Informasi Geospasial (BIG).
Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menilai mengatasi masalah lingkungan hidup tidak bisa dilakukan pemerintah saja atau satu kementerian.
"Butuh kerja sama lintas kementerian untuk menggagas pemecahan permasalahan lingkungan di Indonesia," kata Siti ketika memberi sambutan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman dengan Kemendikbud, Kemenristek Dikti, Kemenag, Lapan, dan BIG di Jakarta, kemarin. Acara tersebut bertajuk Menanam Pohon dan Monitoring Hutan untuk Generasi Mendatang.
Ia meyakini memasukkan isu lingkungan hidup ke dunia pendidikan bisa berpengaruh besar dalam memperbaiki kerusakan lingkungan. "Jadi spiritnya kita mulai dari diri sendiri, di sini, dan sekarang.''
Lahan kritis di Indonesia sudah menjadi sorotan internasional. Pasalnya, dari 130 juta ha lahan hutan, 24,3 juta ha sudah terdegradasi.
"Di Indonesia 175 perguruan tinggi, 12 ribu SMA, dan 17 ribu SMP, kalau satu peserta didik menanam lima pohon, akan ada 40-50 ribu ha lahan yang menghijau setiap tahun," tambahnya.
Belum lagi, lanjutnya, prakarsa yang digalang Kemenag yang mewajibkan pasangan yang hendak menikah untuk menanam pohon.
"Itu berarti dengan fakta bahwa dalam setahun terdapat empat juta pasangan yang menikah, Indonesia akan mendapatkan tambahan 20 juta pasang pohon tiap tahunnya karena satu psangan diwajibkan menanam lima pohon," ucap Siti. (Ric/H-1)