Biaya Vaksin Perlu Disubsidi

MI/PUPUT MUTIARA
17/6/2015 00:00
Biaya Vaksin Perlu Disubsidi
(ANTARA)
BERDASARKAN data Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) tahun 2013, setiap tahun terdapat 1,4 juta kematian anak-anak di bawah usia lima tahun yang disebabkan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi.

Sayangnya, di Indonesia, pemerintah belum sepenuhnya menyubsidi jenis-jenis vaksin. Menurut dokter spesialis anak yang juga Sekretaris Umum Ikatan Dokter Indonesia, Piprim Basarah Yandarso, dari 14 vaksin yang dianjurkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), baru enam yang disubsidi pemerintah.

"Semua vaksinasi itu penting untuk mencegah penyakit berbahaya, tapi di Indonesia masih ada delapan yang belum mendapatkan bantuan biaya dari pemerintah," ujarnya, saat acara Smart Parents, Protected Children di Jakarta, kemarin.

Ia memaparkan vaksin yang sudah mendapat subsidi pemerintah di antaranya hepatitis B, polio, BCG, DTP, campak, dan HiB. Adapun, yang belum disubsidi pemerintah antara lain HPV, MMR, hepatitis A, PCV, rotavirus, influenza, cacar air, dan tifoid.

Padahal, kata Piprim, angka kejadian virus HPV (kanker serviks atau mulut rahim) di Indonesia semakin tinggi sehingga perlindungan dari virus itu pun harus dilakukan sejak dini dengan cara divaksin. "Ke depan, kita berharap pemerintah bisa memperhatikan hal ini. Bukan cuma untuk HPV, melainkan juga vaksin lainnya yang dibutuhkan setiap orang," terang dia.

Lebih lanjut Piprim menjelaskan, semua vaksinasi pada anak-anak efektif 90% sampai 99% dalam mencegah penyakit dan melindungi jutaan jiwa hingga di seluruh dunia.

Berkesinambungan
Di kesempatan yang sama, Governement Affairs & Communications Directror GSK Indonesia, Prelia H Moenandar menyatakan untuk mencegah berbagai jenis penyakit berbahaya, vaksinasi harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. "Informasi soal jenis dan kegunaan vaksinasi harus dipahami setiap orangtua, termasuk soal jadwal vaksinasi yang tepat," ucapnya.

Sebab, menurut dia, vaksinasi yang diberikan sesuai jadwal ditengarai mampu membentuk imunitas yang optimal. Jika anak terlambat jadwal vaksinasi, kata dia, hal itu berimplikasi pada keterlambatan anak terlindung dari penyakit.

Namun demikian, sambung Prelia, vaksin yang terlambat diberikan dapat dilanjutkan dan tetap dapat melindungi anak, walaupun tidak sebaik yang diberikan tepat waktu. "Untuk mengejar keterlambatan, dapat digunakan vaksin kombinasi atau pemberian secara simultan," tandasnya. (M-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya