Agar si Kecil tidak Antisayur

Puput Mutiara
17/6/2015 00:00
Agar si Kecil tidak Antisayur
(THINKSTOCK)
TIAP kali mendengar atau membaca pemaparan tentang pentingnya sayur dan buah bagi anak, Ike Cahyanti, 27, merasa resah, sebab buah hatinya, Zahida Qalbi Nadhifa, sulit sekali mengonsumsi kedua jenis makanan itu. Berbagai cara sudah dia coba untuk membujuk si kecil yang baru berusia 2,5 tahun itu.

''Tapi susahnya minta ampun. Kalau buah, pelan-pelan dia mulai mau makan meski harus lama ngebujuknya. Tapi kalau sayuran, sama sekali tidak mau. Saya sampai bingung kenapa jadi begitu,'' kata perempuan yang tinggal di Tangerang, Banten, itu.

Ike mengakui ia baru belakangan ini mencoba memberikan sayur dan buah kepada anak semata wayangnya itu. ''Dulu-dulu Dhifa lebih sering dikasih biskuit,'' imbuhnya.

Apa yang dialami Ike merupakan kasus yang banyak terjadi. Banyak ibu juga mengeluhkan masalah yang sama. Data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2013 juga menyebut perilaku konsumsi kurang sayur dan atau buah pada penduduk usia 10 tahun ke atas mencapai 93,5%. Artinya, hanya 6,5% masyarakat Indonesia yang sudah cukup mengonsumsi sayur dan buah.

Memang, data tersebut merujuk pada penduduk berusia 10 tahun ke atas. Namun, perlu diketahui bahwa perilaku konsumsi orang dewasa dipengaruhi oleh pola konsumsi semasa kecil.

''Pola makan semasa bayi turut menentukan pola makan saat masa anak-anak dan dewasa. Oleh karena itu, setiap orangtua wajib membentuk pola makan yang sehat kepada anak-anak sejak bayi,'' ujar pakar gastroenterologi anak Prof dr Agus Firmansyah pada diskusi Nutritalk yang diselenggarakan Sari Husada di Jakarta, Senin (15/6).

Guru Besar di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengungkapkan 1.000 hari pertama kehidupan bayi, yakni sejak masa janin hingga berusia dua tahun, merupakan window of opportunity bukan hanya untuk tumbuh kembang optimal, melainkan juga bagi pembentukan perilaku atau pola makan sehat dalam jangka panjang.

Ia mengingatkan, setelah diberi air susu ibu (ASI) eksklusif sampai usia enam bulan, bayi perlu dikenalkan pada makanan pendamping ASI dalam beragam tekstur, tampilan, dan rasa untuk memenuhi jenis dan jumlah nutrisi yang lebih komprehensif seiring dengan pertambahan usia.

''Pada masa ini, bayi perlu dikenalkan pada MPASI berupa buah dan sayur secara bertahap dan teratur. Hal itu tidak saja akan menyediakan serat yang dibutuhkan bagi kesehatan pencernaan mereka, tapi juga akan membentuk preferensi terhadap buah dan sayur yang akan mereka bawa sampai usia dewasa,'' jelas Agus.

Ia menambahkan penelitian di berbagai negara Eropa seperti Inggris, Belanda, dan Polandia menunjukkan bahwa anak yang sudah dibentuk kesukaannya terhadap sayur dan buah pada usia dini akan memiliki kebiasaan makan sehat di usia selanjutnya.

Saat anak menginjak usia setahun, lanjut Agus, mereka mulai dapat mengonsumsi makanan keluarga. Pada tahapan itu, interaksi yang terbentuk antara ibu dan anak berperan penting dalam pembentukan pola makan sayur dan buah.

''Hati-hati, seorang anak bisa mengalami neophobia atau ketakutan untuk mencoba makanan baru semenjak usia 18 bulan. Hal itu dapat menyebabkan anak menjadi pemilih alias picky eater. Orangtua harus pintar-pintar mengarahkan anak.''

Ragam manfaat
Pada kesempatan itu, Agus menjelaskan konsumsi sayur dan buah memberikan beragam manfaat, seperti membantu pemenuhan serat, vitamin, dan mineral. Seluruh zat gizi itu diperlukan untuk kesehatan saluran cerna dan imunitas anak yang lebih baik.

''Bukan itu saja, konsumsi sayur dan buah sejak kecil juga menurunkan risiko terkena berbagai penyakit, seperti peradangan, alergi, diare, jantung, kanker, dan darah tinggi pada usia dewasa,'' ujarnya.

Sayur dan buah juga mengandung prebiotik, yakni zat yang diperlukan untuk mendukung perkembangbiakan kuman baik dalam sistem pencernaan kita.

''Kalau balita minum susu terus, tapi tidak mengonsumsi sayur atau buah yang mengandung serat, ia akan mengalami kesulitan buang air besar (BAB). Dampaknya, BAB bisa sampai berdarah,'' jelasnya.

Jika dilihat dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013, kebutuhan akan serat semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Pada usia 7-11 bulan, anak membutuhkan asupan 10 gram serat per hari. Di usia 16-18 tahun, kebutuhan serat remaja perempuan sebanyak 30 gram/hari dan laki-laki 37 gram/hari.

''Kecukupan serat yang semakin meningkat ini bisa dipenuhi jika anak-anak dan remaja terbiasa mengonsumsi buah dan sayur sejak usia dini,'' tegas Agus. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya